Staring ke rak buku di Gramedia sambil pikiran berputar: “Mau beli yang mana ya?” adalah situasi yang terlampau familiar. Dilema klasik: budget terbatas, waktu membaca juga, tapi FOMO melihat buku-buku baru terus muncul di etalase. Tahun ini saja, setidaknya ada puluhan judul yang sempat merajai daftar best seller, dan memilih seolah jadi tugas berat.

Setelah beberapa bulan menjadi “pengamat pasif” daftar best seller dan akhirnya mengosongkan dompet untuk beberapa judul, saya merasa perlu berbagi cerita. Bukan sekadar daftar, tapi lebih ke ngobrol santai tentang buku-buku yang benar-benar meninggalkan jejak, entah karena ceritanya yang menghipnotis atau ide-ide yang bikin mikir ulang cara hidup.

Mengapa Daftar Ini Berbeda?

Sebelum masuk ke judul-judul spesifik, penting untuk menjelaskan: ini bukan daftar yang dibuat berdasarkan angka penjualan semata. Tentu, semua buku di sini pernah menempati posisi atas di cabang-cabang Gramedia besar. Tapi yang lebih krusial, masing-masing punya sesuatu yang membuat saya—dan ribuan pembaca lain—merasa buku itu perlu ada di rak, bukan sekadar dibaca lalu dilupakan.

Kriteria pribadi saya sederhana: apakah buku ini mengubah cara saya melihat sesuatu? Apakah ceritanya begitu kuat hingga masih terngiang seminggu setelah selesai? Atau apakah ini adalah hiburan murni yang pantas dihabiskan setelah hari-hari berat? Mari kita mulai.

Fiksi yang Menghantui: Cerita-Cerita yang Tak Lepas Dari Pikiran

1. Laut Bercerita oleh Leila S. Chudori

Buku ini bukan sekadar novel. Leila membawa kita masuk ke ruang-ruang kelam sejarah yang jarang dijelajahi. Kesan pertama saya: kok berat ya. Tapi justru di sanalah kekuatannya. Setiap halaman terasa seperti menyelam lebih dalam ke dalam lautan memori sakit yang tak pernah dituntaskan.

Yang paling berkesan adalah bagaimana Leila tidak memberi jawaban mudah. Tidak ada heroisme berlebihan, hanya manusia yang berusaha bertahan. Tokoh-tokohnya rapuh, penuh cela, dan sangat nyata. Setelah menutup buku terakhir, saya duduk diam selama setengah jam, mencoba mencerna apa yang baru saja dibaca.

Mengapa masuk wishlist: Karena kita butuh mengingat. Di tengah tren bacaan ringan, buku seperti ini mengingatkan bahwa sastra bisa jadi alat penyembuhan kolektif.

  • Terjual lebih dari 85.000 eksemplar dalam 6 bulan pertama
  • Menempati #1 Best Seller Gramedia selama 11 minggu berturut-turut
  • Menang beberapa penghargaan sastra nasional

2. The Midnight Library oleh Matt Haig (Terjemahan)

Sejujurnya, saya skeptis dengan novel filosofis yang dikemas fiksi. Tapi The Midnight Library melewati semua ekspektasi. Konsep perpustakaan yang menyimpan buku-buku kehidupan alternatif dari setiap pilihan yang tidak kita ambil—sungguh, siapa yang tidak pernah bertanya “bagaimana jika?”

Baca:  Kindle Vs Buku Fisik: Pengalaman Baca Mana Yang Lebih Efektif Untuk Buku Tebal?

Buku ini hadir tepat waktu. Di tahun penuh ketidakpastian ini, cerita tentang Nora Seed yang mendapat kesempatan mencoba kehidupan lain tapi akhirnya belajar menerima yang ada, terasa seperti terapi. Haig tidak menggurui. Dia bercerita, dan melalui cerita itu, kita menemukan diri sendiri.

Kelemahannya? Bebagian tengah terasa sedikit berulang. Tapi mungkin itu sengaja—untuk menekankan bahwa pencarian makna memang monoton dan memakan waktu.

“Buku ini seperti cermin. Tidak memberi jawaban, tapi membantu kamu melihat lebih jelas apa yang sebenarnya kamu cari.”

3. Hai, Miiko! oleh Ono Eriko (Terjemahan)

Saya tahu, komik slice-of-life mungkin terasa tidak “serius” untuk beberapa orang. Tapi jujur saja, setelah membaca Laut Bercerita dan The Midnight Library, otak butuh istirahat. Hai, Miiko! adalah obat mujarab.

Kisah sehari-hari Miiko, anak SD yang polos dan polosnya polos, mengingatkan saya pada kebahagiaan sederhana yang sering dilupakan. Tidak ada konflik besar, hanya kehilangan pensil, berteman dengan kucing, atau kegagalan ujian matematika. Tapi di situlah keajaibannya: kita diajak kembali melihat dunia melalui mata anak kecil.

Terjual lebih dari 120.000 eksemplar nasional tahun ini, bukti bahwa kita semua rindu akan kepolosan.

Non-Fiksi yang Mengguncang: Ketika Ide Mengubah Cara Pandang

4. Filosofi Teras oleh Henry Manampiring

Sudah lewat tiga tahun sejak pertama kali terbit, tapi buku ini masih saja berada di top 10 best seller di hampir setiap cabang Gramedia. Saya sendiri baru membacanya tahun ini, dan bisa dipahami mengapa fenomena ini terjadi.

Henry berhasil menjadikan stoisisme—filsafat kuno yang sering dianggap kaku—sebagai panduan praktis untuk menghadapi kehidupan modern. Bukan teori melulu, tapi aplikasi langsung: bagaimana menghadapi traffic macet, kritik di media sosial, atau kegagalan proyek kerja.

Yang paling saya sukai adalah bagian tentang premeditatio malorum—bayangkan hal terburuk yang bisa terjadi. Teknik ini, yang awalnya terdengar pesimistis, justru membebaskan saya dari kecemasan berlebihan.

Catatan penting: Jangan baca sekali duduk. Ini buku yang harus dicerna pelan-pelan, mungkin satu bab seminggu.

  • Total penjualan nasional: 500.000+ eksemplar (semua edisi)
  • Rating rata-rata di Goodreads versi Indonesia: 4.3/5
  • Diadaptasi menjadi workshop dan kelas online oleh berbagai institusi

5. Atomic Habits oleh James Clear (Terjemahan)

Jika ada satu buku self-improvement yang benar-benar mengubah sistem hidup saya, ini dia. Bukan karena ide-ide revolusioner, tapi karena James Clear punya kemampuan luar biasa menjelaskan konsep kompleks dengan sederhana.

Sistem 1% improvement setiap hari terdengar klise, tapi Clear mendukungnya dengan riset neurologi, psikologi, dan contoh nyata. Saya mengaplikasikan teknik habit stacking—menempelkan kebiasaan baru ke kebiasaan lama—dan hasilnya signifikan. Dua bulan sekarang, saya bisa meditasi 10 menit setiap pagi tanpa skip.

Kekurangannya? Beberapa bagian terasa sedikit repetitif, terutama jika kamu sudah familiar dengan riset kebiasaan. Tapi untuk pemula, ini adalah masterclass tertulis.

6. Sapiens: A Brief History of Humankind oleh Yuval Noah Harari (Terjemahan)

Membaca Sapiens seperti naik roller coaster intelektual. Harari mengajak kita melangkah mundur 70.000 tahun dan melihat sejauh mana Homo sapiens mengubah planet ini. Buku ini menggugah, mengganggu, dan memaksa kita bertanya ulang tentang segalanya: agama, negara, uang, bahkan kebahagiaan.

Bagian tentang imagined realities—realitas yang hanya ada di pikiran kolektif—masih terngiang. Uang, misalnya, hanya kertas atau angka di layar yang kita sepakati punya nilai. Begitu pula hak asasi manusia, perusahaan, dan negara. Ini bukan untuk menghilangkan makna, tapi untuk memahami bahwa kita adalah pembuat makna.

Buku ini berat, tapi tidak akademis. Harari penulis ulung yang bisa menjelaskan kompleksitas dengan narasi menarik. Siap-siap merasa kecil setelah membacanya.

Baca:  Rekomendasi Buku Sejarah Indonesia Yang Tidak Membosankan Seperti Buku Sekolah

Biografi & Memoir: Belajar dari Kehidupan Orang Lain

7. Kisah Tanah Jawa: Eksplorasi Misteri Budaya Jawa oleh Ki Nartosabdo

Buku ini mungkin tidak sepopuler judul-judul sebelumnya, tapi di dunia pecinta budaya Jawa, ia fenomenal. Ki Nartosabdo, dalang legendaris, membuka tabir dunia wayang dan kepercayaan Jawa dengan cara yang tidak pernah dilakukan sebelumnya.

Bukan sekadar cerita rakyat, tapi analisis mendalam tentang simbolisme, filosofi, dan psikologi di balik wayang. Saya terkejut mengetahui bahwa setiap tokoh wayang merepresentasikan aspek psikologi manusia. Arjuna bukan sekadar pahlawan, tapi representasi pikiran rasional yang selalu ragu.

Yang membuatnya spesial adalah narasinya yang personal. Ki Nartosabdo sering menyelipkan pengalaman pribadinya di balik panggung, membuat buku ini hidup.

Parenting & Hubungan: Untuk Mereka yang Tumbuh Bersama

8. Good Inside: A Guide to Becoming the Parent You Want to Be oleh Becky Kennedy (Terjemahan)

Sebagai orang tua, saya sudah lelah dengan buku parenting yang penuh panduan kaku dan terasa menghakimi. Good Inside datang seperti angin segar. Dr. Becky (sebutan akrabnya) mendekati parenting dari sudut empati dan psikologi anak yang sebenarnya.

Inti buku ini sederhana: anak-anak memang good inside, mereka hanya belum punya alat untuk mengelola emosi. Masalahnya bukan pada si anak, tapi pada skill gap. Framing ini saja sudah mengubah cara saya menghadapi tantrum.

Metode “two things can be true”—bahwa dua perasaan bisa benar secara bersamaan—sangat membantu. “Kamu bisa marah sama adikmu DAN kita tetap tidak boleh memukul.” Teknik ini mengajarkan validasi tanpa menghilangkan batasan.

Terjual lebih dari 45.000 eksemplar dalam edisi bahasa Indonesia, mayoritas dibeli oleh orang tua millennial yang lelah dengan metode lama.

Self-Help Klasik yang Tak Pernah Tua

9. Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat oleh Mark Manson (Terjemahan)

Saya ingat pertama kali membaca buku ini lima tahun lalu. Kesan pertamanya: kasar, vulgar, tapi damn, dia punya poin. Tahun ini, Gramedia menerbitkan edisi ulang dengan cover baru, dan buku ini langsung kembali ke top 5.

Intinya: kita hanya punya sejumlah fucks untuk diberikan. Pilih dengan bijak. Manson tidak mengajarkan kita untuk tidak peduli sama sekali, tapi untuk peduli pada hal-hal yang benar-benar penting. Konsep value hierarchy—menentukan apa yang benar-benar kita nilai—masih jadi alat yang saya gunakan hingga kini.

Gaya bahasanya memang tidak untuk semua orang. Jika kamu sensitif dengan kata-kata kasar, mungkin akan tersinggung. Tapi jika bisa melaluinya, ada hikmah yang tajam di balik vulgaritas itu.

Catatan Khusus: Buku yang Harus Dibaca Beramai-Ramai

10. Bumi Manusia oleh Pramoedya Ananta Toer (Edisi Khusus)

Mengapa masukkan buku klasik dalam daftar tahun ini? Karena Gramedia baru saja menerbitkan edisi khusus dengan catatan kaki tambahan dan wawancara eksklusif dengan penerjemah. Ini bukan sekadar reprint, tapi upaya untuk memperkenalkan kembali masterpiece ini kepada generasi baru.

Membaca Bumi Manusia tahun ini terasa relevan. Kisah Minke yang berjuang melawan kolonialisme, diskriminasi, dan ketidakadilan, menggema dengan situasi sosial saat ini. Pramoedya menulis dengan cinta yang begitu besar pada Indonesia, tapi juga dengan kritik tajam pada kebobrokan bangsanya sendiri.

Edisi ini juga mencakup esai terbaru dari beberapa sastrawan muda yang menjelaskan mengapa karya Pramoedya masih penting. Ini bukan sekadar novel, tapi warisan.

“Membaca Bumi Manusia bukan sekadar menghabiskan waktu. Ini adalah investasi untuk menjadi warga negara yang lebih baik.”

Bagaimana Memilih untuk Wishlistmu?

Di hadapan 10 judul ini, kebingungan pasti kembali muncul. Mana yang dipilih dulu? Berikut strategi yang saya gunakan:

  1. Prioritaskan kebutuhan emosional saat ini. Stres dengan pekerjaan? Filosofi Teras atau Atomic Habits. Butuh pelarian? Hai, Miiko! atau The Midnight Library.
  2. Budget bukan harga buku, tapi waktu. Beberapa buku butuh konsentrasi penuh (Sapiens), beberapa bisa dibaca sambil nunggu antrean (Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat).
  3. Baca sampel dulu. Gramedia punya fitur baca sampel online untuk mayoritas judul. Manfaatkan ini sebelum memutuskan.
  4. Jangan ikut tren kalau tidak resonate. Good Inside luar biasa, tapi kalau kamu belum punya anak, mungkin bisa ditunda.

Tahun ini, saya berhasil membaca 7 dari 10 buku di daftar ini. Tiga sisanya masih mengantri dengan sabar. Dan itu tidak apa-apa. Koleksi buku yang baik bukan yang paling banyak, tapi yang paling bermakna untuk perjalananmu.

Semoga daftar ini membantu mengurangi kegalauan di depan rak Gramedia. Selamat membaca, dan semoga menemukan buku yang tidak sekali dibaca, tapi dihidupi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

5 Buku Bacaan Ringan Untuk Mengatasi Reading Slump (Malas Baca)

Ada fase ketika buku-buku di rak terasa lebih seperti dekorasi dan tiap…

Buku Import Bahasa Inggris Yang Bahasanya Mudah Dimengerti Pemula

Membaca buku impor berbahasa Inggris sering jadi mimpi buruk bagi pemula. Kalimat…

Kindle Vs Buku Fisik: Pengalaman Baca Mana Yang Lebih Efektif Untuk Buku Tebal?

Memegang buku setebal The Count of Monte Cristo di kereta pagi-pagi buta…

Review Buku Masak Simpel Untuk Anak Kos: Hemat Dan Bahan Mudah Didapat

Sebagai anak kos yang pernah hampir menyerah dengan dapur umum, gue bisa…