Ada fase ketika buku-buku di rak terasa lebih seperti dekorasi dan tiap halaman yang dibaca berat seperti batu. Reading slump itu nyata, dan bukan soal malas. Otak kita hanya butuh reset. Saya pernah berada di sana, dan solusi paling ampuh bukan memaksa diri menamatkan War and Peace, tapi memberi diri izin untuk membaca sesuatu yang ringan, manis, dan membuat kita lupa waktu.

Berikut lima buku yang pernah jadi penyelamat saya. Mereka tidak menuntut, tidak menghakimi, dan—yang terpenting—membuat rasa ingin tahu perlahan kembali hidup.

1. The Little Prince karya Antoine de Saint-Exupéry

Sebuah buku yang hanya 96 halaman tapi punya kekuatan menampar hati. Kisah anak kecil dari asteroid B-612 ini adalah obat paling manjur ketika bacaan berat terasa sia-sia. Saint-Exupéry menulis dengan kesederhanaan yang menipu: kalimat pendek, dialog ringan, tapi setiap bab meninggalkan bekas.

Kenapa ampuh untuk reading slump:

  • Panjangnya kurang dari 100 halaman, bisa selesai dalam satu duduk.
  • Gambar-gambar ilustrasi di dalamnya memberi visual break.
  • Temanya universal—tentang kehilangan, persahabatan, dan melihat dengan hati.
  • Setiap kali tamat, selalu ada satu kalimat baru yang terlewat sebelumnya.

Saya sendiri pernah baca ulang buku ini saat tiga bulan tidak menyentuh novel. Ternyata, yang saya butuhkan hanya izin untuk kembali jadi “kecil” dan tidak tahu apa-apa lagi.

“Yang terpenting itu tak kasat mata.” Kalimat ini terasa baru setiap kali kita berada di fase yang berbeda.

2. Tuesdays with Morrie karya Mitch Albom

Buku non-fiksi yang terasa seperti ngobrol hangat dengan kakek sendiri. Mitch Albom menceritakan pertemuan rutinnya setiap Selasa dengan guru lamanya, Morrie Schwartz, yang sedang menghadapi ALS. Buku ini hanya 208 halaman, tapi isinya adalah pelajaran hidup yang disajikan tanpa gengsi.

Baca:  Rekomendasi Buku Parenting Untuk Orang Tua Baru (Anti Menggurui)

Kenapa ampuh untuk reading slump:

  • Struktur bab-bab pendek dan fokus, masing-masing hanya 3-5 halaman.
  • Topiknya nyata: cinta, pekerjaan, kematian, pertemanan—semua yang kita pikirkan tiap hari.
  • Narasi pertama yang bersahabat membuat kita merasa duduk di samping Morrie.
  • Tidak perlu konsentrasi penuh; bisa dihentikan kapan saja dan dilanjutkan tanpa kehilangan jejak.

Saya ingat membaca satu bab sambil menunggu kopi tubruk di pagi hari. Tidak ada tekanan. Hanya ada satu pelajaran kecil yang kemudian mengendap seharian.

3. The House in the Cerulean Sea karya TJ Klune

Fiksi fantasi yang tidak seperti fantasi pada umumnya. Tidak ada epik perang atau peta dunia yang rumit. Hanya cerita tentang Linus Baker, seorang pekerja sosial, yang ditugaskan mengevaluasi sebuah panti asuhan untuk anak-anak berkekuatan supernatural. Buku ini 400 halaman, tapi jangan takut—flow-nya begitu cepat dan hangat seolah hanya 200 halaman.

Kenapa ampuh untuk reading slump:

  • Humor yang lembut dan dialog-dialog jenaka membuat kita tersenyum tanpa sadar.
  • Temanya tentang menerima diri dan keluarga yang kita pilih—sangat emosional tapi tidak melankolis.
  • Setiap bab mengajak kita ingin tahu, “Terus, apa yang akan dilakukan anak-anak ini?”
  • Tidak ada kekerasan atau konflik berat; ini adalah comfort read murni.

Saya baca buku ini di tengah kebuntuan kreatif. Ternyata, otak butuh cerita yang manis, bukan yang menantang. TJ Klune memberi saya izin untuk menikmati kebaikan semata, dan itu cukup.

4. Ikigai: The Japanese Secret to a Long and Happy Life karya Héctor García & Francesc Miralles

Ketika fiksi terasa berlebihan, buku ini adalah jalan keluar. Bukan self-help yang memaksa, tapi eksplorasi filosofi Jepang tentang makna hidup. Dengan 208 halaman, buku ini penuh dengan foto, ilustrasi, dan wawancara dengan penduduk Okinawa yang berumur panjang.

Kenapa ampuh untuk reading slump:

  • Format visual: satu halaman teks, satu halaman gambar. Otak tidak lelah.
  • Konsepnya sederhana: temukan alasan bangun pagi. Tidak ada jargon rumit.
  • Bisa dibaca secara acak—buka halaman mana saja, dapat inspirasi.
  • Setiap bab hanya 2-3 halaman, jadi tidak ada beban untuk “selesaikan dulu”.
Baca:  Sapiens Vs Guns, Germs, And Steel: Mana Buku Sejarah Manusia Yang Lebih Akurat?

Saya letakkan buku ini di meja makan. Sebelum makan siang, baca satu bab. Tanpa sadar, tiga minggu kemudian sudah tamat dan malas baca pun mulai pudar. Kadang, yang kita butuhkan hanya sedikit pengingat bahwa hidup itu sederhana.

5. Persepolis: The Story of a Childhood karya Marjane Satrapi

Novel grafis yang menceritakan kisah Marjane, seorang gadis Iran yang tumbuh di tengah revolusi. Buku ini hanya 153 halaman, tapi daya tariknya bukan hanya karena pendek—tapi karena formatnya yang benar-benar berbeda.

Kenapa ampuh untuk reading slump:

  • Visual! Otak yang lelah dengan teks panjang akan bersyukur dengan ilustrasi hitam-putih yang kuat.
  • Plotnya cepat dan linear: dari kecil hingga remaja, tidak ada flashback rumit.
  • Tema berat (perang, identitas) disajikan dengan humor dan ketegasan anak-anak.
  • Selesai dalam satu atau dua duduk, memberikan rasa pencapaian instan.

Ketika buku tebal membuatku bersalah, Persepolis mengingatkan bahwa cerita tidak harus panjang untuk punya dampak. Kadang, satu panel komik bisa bicara lebih banyak dari 10 halaman narasi.

Reading slump bukan soal kehilangan cinta pada bacaan; itu hanya tanda otak kita butuh istirahat dari yang “serius”. Beri ia camilan, bukan beban.

Tips Tambahan: Jangan Jadi Keras pada Diri Sendiri

Memilih buku ringan bukan berarti menurunkan standar. Itu hanya strategi. Saya pernah menghabiskan dua bulan hanya membaca kumpulan puisi dan buku anak-anak. Yang penting adalah momentum. Sekali roda kembali berputar, kita bisa naik ke buku yang lebih berat lagi.

Beberapa prinsip yang saya pegang:

  • Boleh berhenti di tengah jalan jika ternyata tidak cocok. Tidak ada hukuman.
  • Baca di tempat baru: kafe, taman, atau bahkan di atas kasur. Ubah konteks.
  • Catat satu kalimat yang menarik perhatian. Tidak perlu resensi panjang.
  • Jika perlu, baca ulang buku favorit lama. Itu juga terhitong membaca.

Reading slump adalah fase, bukan kegagalan. Kelima buku di atas pernah jadi jembatan bagi saya. Mereka mengingatkan bahwa membaca, pada intinya, adalah tentang kenikmatan. Jika buku itu tidak memberi kegembiraan, ganti saja. Ada begitu banyak cerita yang menunggu, dan kita punya hak untuk memilih yang mana dulu yang akan memeluk kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Rekomendasi Buku Sejarah Indonesia Yang Tidak Membosankan Seperti Buku Sekolah

Saya masih ingat betapa ngantuknya dulu saat harus menghafal nama-nama gubernur jenderal…

Review Buku Masak Simpel Untuk Anak Kos: Hemat Dan Bahan Mudah Didapat

Sebagai anak kos yang pernah hampir menyerah dengan dapur umum, gue bisa…

Rekomendasi Buku Parenting Untuk Orang Tua Baru (Anti Menggurui)

Ketika jadi orang tua baru, sering kali kita dibombardir saran yang terasa…

10 Buku Best Seller Gramedia Tahun Ini Yang Wajib Masuk Wishlist

Staring ke rak buku di Gramedia sambil pikiran berputar: “Mau beli yang…