Kebanyakan pembaca mengenal Agatha Christie hanya lewat And Then There Were None—dan itu wajar. Novel itu memang masterpiece yang bikin napas tertahan. Tapi sebagai seseorang yang habiskan malam demi malam tenggelam dalam dunia karya Christie, saya jadi tahu: ada harta karun lain yang layak diperbincangkan. Karya-karya yang nggak kalah genius, bahkan kadang lebih personal, lebih eksperimental, atau lebih mengejutkan.
Mari kita ngobrolin lima novelnya yang menurut saya pantas dapat spotlight lebih besar. Bukan yang paling terkenal, tapi yang paling memorable—setidaknya buat saya.
1. The Murder of Roger Ackroyd (1926)
Ini adalah buku yang bikin saya ternganga. Bukan cuma karena ending-nya, tapi karena teknik berceritanya yang berani banget. Christie sengaja main-main dengan batasan narrator, dan hasilnya? Sebuah whodunit yang dianggap kontroversial di masanya, tapi sekarang jadi salah satu karya paling revolutionary-nya.
Yang saya suka: Hercule Poirot di sini nggak terlalu dominan. Dia muncul sebagai sos yang observan, tapi ruang geraknya terbatas. Ini justru bikin pembaca lebih dekat dengan karakter-karakter lokal di King’s Abbot. Konflik keluarga, rahasia kuno, dan kebusukan di balik dinding manor house—semua disajikan dengan pacing yang pas.
Tapi yang paling mengagumkan adalah keberanian Christie mematahkan ekspektasi. Dia tahu risikonya: bisa jadi pembaca merasa “dicurangi”. Tapi justru itu yang bikin novel ini jadi penting: ia memperluas definisi apa yang bisa dilakukan dalam genre misteri.
Catatan penting: Jangan baca sinopsis lengkapnya sebelum mulai. Biarkan diri Anda jadi detektif amatir yang sebenarnya.

2. Murder on the Orient Express (1934)
Mungkin terdengar mainstream, tapi tetap masuk hidden gems karena banyak yang tahu ending-nya tanpa pernah baca bukunya. Saya termasuk. Tahu twist-nya dari film, tapi pas baca novelnya, saya baru sadar: pengalaman membaca jauh lebih kaya. Nuansa, detail, dan psikologi di balik setiap gerakan tokoh itu yang bikin beda.
Ceritanya sederhana: Poirot naik kereta mewah, terjadi pembunuhan di tengah badai salju, semua penumpadi menjadi tersangka. Tapi Christie bikin setting kereta api itu jadi karakter sendiri. Klaustrofobia, kepanikan, dan dinamika kelas sosial tercium kuat di setiap halaman.
Kekurangannya? Beberapa pembaca mungkin merasa investigasi di sini agak “teoritis”. Banyak wawancara, kurang aksi. Tapi buat saya, itu justru daya tariknya. Kita diajak mikir, bukan sekadar ikut-ikutan chase scene.
3. Death on the Nile (1937)
Ini novel yang bikin saya jatuh cinta sama setting. Mesir, sungai Nil, kapal uap mewah—Christie mengubah lokasi liburan jadi crime scene yang memukau. Yang menarik: pembunuhan baru terjadi setelah hampir setengah buku. Sebelum itu, kita disuguhkan drama percintaan segitiga yang toxic, iri hati, dan obsesi.
Poirot di sini lebih human. Dia nggak cuma jadi mesin logika, tapi juga menunjukkan empati. Ada satu momen di mana dia ngobrol santai dengan karakter minor sambil menikmati pemandangan—scene yang nggak penting buat plot, tapi penting buat karakter.
Weakness: Beberapa dialog terasa ketinggalan zaman, especially soal stereotip karakter non-Inggris. Tapi kalau bisa lewatin itu, mystery-nya sendiri solid banget. Clue-nya tersebar adil, dan solusi-nya satisfying.
Highlight: Konflik manusiawi yang mendalam. Ini bukan sekadar teka-teki, tapi juga studi tentang kecemburuan dan akibatnya.
4. Crooked House (1949)
Ini buku yang nggak ada Poirot atau Miss Marple. Dan justru itu kekuatannya. Christie bebas eksperimen tanpa terikat ekspektasi pembaca akan ikonik detective. Hasilnya? Sebuah standalone yang menurut saya salah yang paling menakutkan.
Premisnya: seorang miliarder tua mati, keluarganya besar jadi tersangka. Setiap anggota keluarga punya motif, dan semua tinggal di satu rumah besar—hence the title Crooked House. Setting-nya mirip ATTWN, tapi dengan dinamika keluarga yang lebih kompleks.
Yang bikin saya terkesan: ending-nya. Nggak ada yang bisa nebak. Bukan karena twist-nya gila, tapi karena Christie main-main dengan moralitas. Pilihan penutup yang berani dan sedikit disturbing.
Kelemahan: Pacing di tengah agak lambat. Tapi begitu momentumnya naik, nggak bisa berhenti baca.

5. The Man in the Brown Suit (1924)
Kalau yang ini, Christie nggak cuma nulis misteri—dia nulis petualangan. Ada romansa, ada komedi, ada thriller internasional. Ini buku yang bikin saya senyum-senyum sendiri. Heroine-nya, Anne Beddingfield, adalah salah satu karakter perempuan paling fun di dunia Christie.
Anne ini bukan detektif profesional. Dia cuma gadis muda yang kebetulan lihat sesuatu di stasiun kereta, dan tiba-tiba terlibat konspirasi internasional. Dia nekat, cerdas, dan punya sense of humor yang kering. Saya suka banget karena dia nggak sempurna—sering salah menebak, tapi tetap lanjut.
Kekurangannya: Beberapa plot twist agak melodramatis, ala novel petualangan era 1920-an. Tapi kalau Anda terbuka dengan genre campuran, ini menyegarkan banget. Ini Christie yang playful, nggak terlalu serius.
Apa yang Membuat Lima Novel Ini Istimewa?
Setelah baca ulang beberapa kali, saya sadar ada pola yang bikin kelima novel ini beda dari karya Christie lainnya:
- Eksperimen struktur: Baik itu narrator di Roger Ackroyd atau tanpa detektif ikonik di Crooked House, Christie nggak takut ambil risiko.
- Setting sebagai karakter: Kereta api, kapal uap, manor house, rumah mewah—semua punya nyawa sendiri.
- Moralitas abu-abu: Solusi-solusi di sini nggak selalu hitam-putih. Kadang penjahatnya punya alasan yang bikin kita mikir.
- Karakter yang memorable: Di luar Poirot dan Marple, Christie bisa bikin tokoh sekali pakai yang tetap melekat.

Kesimpulan Pribadi
Memilih lima novel terbaik Christie di luar masterpiece-nya itu seperti memilih anggur favorit di kellar yang penuh. Semua punya karakteristik unik. Kalau Anda suka teka-teki klasik tapi berani, mulai dari The Murder of Roger Ackroyd. Kalau mau drama keluarga mencekam, Crooked House jawabannya. Dan kalau butuh sesuatu yang fun, The Man in the Brown Suit jangan dilewatkan.
Yang paling penting: baca buku Christie nggak cuma soal tebak siapa pelaku. Tapi soal melihat bagaimana seorang penulis terus bereksperimen dalam genre yang katanya “sudah baku.” Dan kelima novel ini membuktikan: genius sejati nggak pernah puas dengan satu formula.
Jadi, mana yang akan jadi bacaan Agatha Christie Anda berikutnya?