Memilih antara Bumi Manusia dan Pulang bagai memilih antara dua kenangan sejarah yang sama-sama menyakitkan tapi tak terelakkan. Keduanya menawarkan jendela ke masa lalu yang terlupakan, tapi lewat jalur yang berbeda sekali.

Dua Wajah Sejarah yang Sama Mengejutkan

Leila S. Chudori menulis Bumi Manusia dengan tangan yang tegas. Novel ini mengangkat tragedi 1965 melalui kisah langsung: penangkapan, penyiksaan, dan perjuangan hidup para tahanan politik di Pulau Buru. Setiap halamannya mengingatkan kita bahwa sejarah bukan hanya angka, tapi napas-napas yang tersengal.

Pulang justru mengambil rute melengkung. Sejarah 1965 disajikan dari sudut pandang diaspora—anak-anak para eksil yang tumbuh di Paris, menjalani kehidupan “normal” tapi selalu dengan tanda tanya besar di kepala. “Ayahku siapa?” “Kenapa kami di sini?”

Protagonis yang Berbeda Sekali Cara Bertahan Hidupnya

Di Bumi Manusia, kita mengikuti Narayana Sulastri alias Nara. Dia kuat, sadar akan posisinya sebagai korban, dan tak pernah menyerah untuk mencatat segala kekejaman. Catatannya menjadi bukti hidup bahwa kesaksian itu penting, bahkan ketika dunia berusaha membisukan.

Antara Saksi dan Pelaku

Nara adalah saksi sekaligus pelaku. Dia melihat, dia derita, dia tulis. Sementara di Pulang, tokoh utamanya adalah Lintang Utara—anak dari eksil yang tak pernah mengalami langsung tragedi itu. Lintang bukan saksi, tapi warisan. Dia harus mencari tahu sendiri kenapa ayahnya tak pernah pulang.

Baca:  5 Novel Thriller Terjemahan Dengan Plot Twist Terbaik (Susah Ditebak)

Kekuatan Bumi Manusia ada pada keberaniannya menatap mata kekejaman tanpa berkedip. Kita diajak merasakan setiap pukulan, setiap hinaan, setiap kehilangan. Novel ini menuntut kita untuk tidak lupa.

Struktur Naratif: Linear vs Melompat-lompat

Bumi Manusia mengikuti alur kronologis yang jelas. Mulai dari kehidupan kampus, penangkapan, kehidupan di penjara, hingga pembebasan. Ini membuat kita tidak bisa kabur. Kita terjebak dalam perjalanan Nara, tak punya pilihan selain melanjutkan.

Pulang lebih cekatan. Leila memotong-memotong waktu dan ruang. Paris, Jakarta, Buenos Aires. Masa lalu dan masa kini saling tukar tempat. Ini mencerminkan kehidupan para eksil yang terpecah-pecah. Identitas mereka tak utuh, dan struktur novel mencerminkan fragmentasi itu.

Tema Pencarian Identitas yang Tak Kunjung Usai

Kedua novel ini sebenarnya bercerita tentang pencarian identitas. Nara mencari jati dirinya yang tetap utuh di tengah upaya negara untuk menghancurkannya. Dia harus mempertahankan siapa dia: seorang manusia, bukan binatang, bukan angka.

Lintang Utara mencari identitas yang tak pernah diberikan. Dia harus mengumpulkan potongan-potongan cerita dari ibunya, dari surat-surat, dari jejak-jejak digital untuk memahami siapa ayahnya dan kenapa dia harus menjadi “anak eksil.”

Keduanya adalah novel tentang kehilangan, tapi Bumi Manusia kehilangan yang terjadi secara fisik dan sadis, sementara Pulang kehilangan yang lebih halus: kehilangan hak untuk memiliki sejarah.

Gaya Bahasa: Pukulan Telak vs Bisikan Pilu

Leila di Bumi Manusia seperti menebas dengan golok. Kalimatnya pendek, tajam, dan seringkali membuat nafas tertahan. Dia tidak punya waktu untuk hiasan. Sejarah yang dia tulis terlalu ngeri untuk dibumbui.

Di Pulang, Leila lebih lihai bermain dengan nuansa. Ada humor, ada romansa, ada kehidupan Paris yang indah. Tapi di balik itu semua ada luka yang tak pernah sembuh. Gaya bahasanya lebih cair, lebih modern, mencerminkan generasi yang hidup di antara dua dunia.

Baca:  Review Novel Gadis Kretek: Bedanya Versi Buku Dan Serial Netflix

Manakah yang Harus Dibaca Dulu?

Pertanyaan ini sering muncul. Jawabannya tergantung pada apa yang kamu cari:

  • Mau terjun langsung ke inti sejarah yang paling kelam? Mulai dari Bumi Manusia. Novel ini akan memberikan fondasi pemahaman tentang apa yang sebenarnya terjadi pada 1965.
  • Mau melihat dampak jangka panjang dan trauma intergenerasional? Pulang adalah pilihan tepat. Novel ini menunjukkan bahwa sejarah tak pernah benar-benar berakhir.

Kedua novel sebenarnya saling melengkapi. Membaca keduanya seperti melihat sebuah koin dari dua sisi. Sisi satu menampakkan kekejaman langsung, sisi lain menampakkan bekas luka yang terus menganga.

Kekuatan dan Kelemahan Masing-masing

Bumi Manusia punya kekuatan monumental dalam ketegasannya. Tapi terkadang intensitasnya begitu berat sehingga pembaca butuh jeda. Beberapa bagian terasa repetitif, mungkin karena Leila ingin memastikan kita benar-benar paham: ini bukan fiksi, ini kesaksian.

Pulang lebih ringan dibawa, lebih mudah dinikmati sebagai karya sastra. Tapi justru karena itu, dampak emosionalnya bisa terasa lebih samar. Kita tidak selalu merasakan pukulan langsung seperti di Bumi Manusia. Beberapa transisi waktu juga terlalu cepat, membuat kita harus mengingat kembali siapa siapa.

Kelemahan Pulang justru menjadi kekuatannya: ia menunjukkan bahwa trauma bisa sangat halus hingga hampir tak terdeteksi, tapi tetap ada di sana.

Kesimpulan: Tak Perlu Memilih

Bandingkan keduanya memang menarik, tapi pada akhirnya kita tak perlu memilih. Bumi Manusia dan Pulang adalah dua masterpiece yang harus dibaca oleh siapa saja yang ingin mengerti Indonesia secara utuh.

Sejarah bukan hanya tentang apa yang terjadi di gedung-gedung bersejarah. Sejarah adalah tentang Nara yang bertahan hidup, tentang Lintang yang mencari ayahnya, tentang kita yang mencoba mengerti dari mana kita berasal.

Leila S. Chudori telah memberikan kita dua kado: satu untuk mengingat, satu untuk merenung. Ambil keduanya. Kamu akan jadi orang yang lebih lengkap setelah menamatkannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Review Novel Gadis Kretek: Bedanya Versi Buku Dan Serial Netflix

Adaptasi selalu jadi ujian nyata untuk sebuah karya sastra. Ketika Netflix mengumumkan…

Rekomendasi Novel Metropop Indonesia Yang Relate Dengan Kehidupan Jakarta

Sejam macet di ruas Thamrin–Sudirman, Spotify sudah muter semua playlist, dan Instagram…

Review Novel Laut Bercerita: Kenapa Buku Ini Bikin Pembaca Nangis?

Beberapa buku membuatmu terpana, tapi hanya segelintir yang berani merogoh isi perutmu…

Review Novel Cantik Itu Luka: Eksplisit, Gelap, Tapi Masterpiece?

Ada buku yang bikin kamu merasa perlu mandi setelah membacanya—bukan karena jorok,…