Saya masih ingat betul euforia pertama kali menutup halaman terakhir Rich Dad Poor Dad. Adrenalin itu cepat, rasanya ingin langsung beli properti, bangun bisnis, dan memecat atasan. Tapi setelah debu semangat mereda, ada banyak pertanyaan yang mengganggu. Pertanyaan yang jarang diangkat mentor keuangan saat mempromosikan buku ini.

Ketika Aset dan Liabilitas Tak Selalu Hitam-Putih
Robert Kiyosaki mengajarkan definisi sederhana: aset adalah sesuatu yang memasukkan uang ke kantong, liabilitas adalah sebaliknya. Teori ini memang menarik, tapi terlalu menyederhanakan realitas keuangan yang kompleks.
Contoh klasus: rumah tinggal. Kiyosaki menyebutnya liabilitas karena menghabiskan uang. Tapi bagaimana dengan nilai emosional? Stabilitas keluarga? Akses sekolah terbaik? Semua itu tak terukur dalam rumus cash flow.
Para akuntan profesional akan berteriak melihat definisi ini. Dalam akuntansi yang sebenarnya, rumah adalah aset yang terdepresiasi. Pengabaian nuansa ini bisa membuat pembaca pemula membuat keputusan finansial buruk.
Biaya Tersembunyi dalam Definisi Sederhana
Kiyosaki mengabaikan konsep good debt versus bad debt yang lebih halus. Pinjaman pendidikan misalnya, bisa jadi liabilitas jika tidak digunakan bijak, tapi bisa menjadi aset produktif jika membuka pintu karier.
Data dari Federal Reserve menunjukkan bahwa rumah tangga dengan aset properti tetap memiliki net worth 40x lipat lebih tinggi daripada yang tidak. Ini bukti bahwa kepemilikan properti—meski “liabilitas” menurut Kiyosaki—jadi pondasi kesejahteraan.
Ilusi “One Size Fits All” dalam Strategi Investasi
Buku ini ditulis dari perspektif orang kulit putih kelas menengah Amerika pada 1990-an. Strateginya tak universal, tapi Kiyosaki menulis seolah cocok untuk semua orang.
Take contoh fokusnya pada real estate. Di banyak negara, beli properti membutuhkan uang muka 30-40% dan biaya notaris tinggi. Belum lagi regulasi yang kompleks. Ini bukan “cara mudah” seperti yang digambarkan.
Untuk pekerja dengan gaji UMR di Jakarta, menyisihkan 20% untuk investasi sudah susah. Apalagi kalau harus beli properti. Kiyosaki tak pernah secara detail membahas cara memulai dari NOL dengan modal terbatas.

Mengabaikan Konteks Sosial-Ekonomi
Konsep “pecat bosmu” terdengar keren, tapi tak realistis bagi single parent dengan dua anak yang harus bayar cicilan. Kiyosaki punya safety net—dia tak pernah eksplisit mengakui ini.
Di Indonesia, 60% pekerja berada di sektor informal tanpa asuransi kesehatan. Mindset “ambil risiko besar” bisa berakhir fatal kalau tak ada jaring pengaman sosial.
Masalah Otentisitas yang Mengganggu
Ini elephan in the room yang paling sensitif. Siapa sebenarnya “Rich Dad”? Kiyosaki selalu kabur soal identitas ini. Investigasi jurnalis menemukan bahwa tokoh mungkin fiktif atau komposit dari beberapa orang.
Di pengadilan 2012, salah satu perusahaan Kiyosaki dinyatakan bangkrut. Ironis bukan? Guru kebebasan finansial ternyata punya masalah finansial sendiri.
Ini bukan soal character assassination, tapi soal kredibilitas. Kalau fondasi ceritanya diragukan, bagaimana kita bisa 100% percaya pada “pengajaran” yang disampaikan?
Ketika Mindset Kaya Menjadi Beban Mental
Buku ini mengajarkan bahwa “uang adalah akar segala kejahatan” adalah mindset miskin. Tapi ekstrem sebaliknya juga berbahaya: obsesi tak sehat pada kekayaan.
Saya pernah bertemu fresh graduate yang menolak kerja “gaji rendah” karena “bukan jalan menuju kebebasan finansial”. Akhirnya menganggur dua tahun, keterampilan stagnan.
Mindset ini menciptakan rasa malu pada mereka yang belum “bebas finansial”. Padahal, setiap perjalanan finansial adalah valid. Menabung untuk biaya orang tua sakit juga pahlawan, bukan “liabilitas pemikiran.”
“Kiyosaki mengajarkan kita untuk menghitung ROI, tapi lupa mengajarkan kita menghitung nilai kemanusiaan.”
Biaya Hubungan yang Tak Terhitung
Fokus berlebihan pada aset bisa merusak hubungan. Saya dengar cerita seseorang yang mengabaikan keluarga demi “building empire”. Empirenya bangkrut, keluarganya pergi.
Kiyosaki tak pernah membahas work-life balance secara bermakna. Semua tentang leverage, OPM (Other People’s Money), tapi tak ada bab tentang leverage waktu untuk orang tercinta.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Buku ini bukan sampah. Ia punya nilai revolusioner pada zamannya: mengajak orang berpikir tentang finansial literacy. Tapi kita butuh lensa kritis.
Poin-poin yang tetap relevan:
- Kebutuhan literasi keuangan di sekolah
- Membangun passive income adalah ide bagus
- Mindset proaktif lebih baik daripada reaktif
Tapi kita harus adaptasi:
- Definisi aset/liabilitas sesuaikan dengan konteks pribadi
- Strategi investasi disesuaikan dengan negara dan modal
- Prioritaskan kesehatan mental dan hubungan
- Verifikasi sumber informasi sebelum praktik
Buku yang Tepat untuk Fase Tertentu
Rich Dad Poor Dad adalah buku pemantik api. Tapi setelah api menyala, kita butuh kayu bakar yang lebih substansial: buku akuntansi, psikologi uang, dan pemahaman regulasi lokal.
Jangan jadi pengikut buta. Jadilah pembaca kritis yang mengambil manfaat dan menyisir kelemahan. Karena pada akhirnya, kebebasan finansial sejati adalah kebebasan berpikir.
“Buku ini adalah titik awal, bukan garis finish. Jangan biarkan satu panduan menjadi kacamata tunggalmu melihat dunia.”