Ketika jadi orang tua baru, sering kali kita dibombardir saran yang terasa seperti tuntutan. Rasanya seperti ada sekian juta “harus” yang bikin kepala pusing. Padahal, yang kita butuhkan justru buku yang memahami kebingungan kita—buku yang lebih seperti teman ngobrol daripada dosen yang menggurui.

Mengapa Memilih Buku Parenting yang “Anti Menggurui”?
Buku parenting yang menggurui punya pola khas: judgey tone, data yang dipaksakan, dan solusi one-size-fits-all. Bikin kita merasa gagal sebelum mencoba.
Buku yang ramah justru mengakui: setiap keluarga unik. Mereka menawarkan ide, bukan perintah. Mereka bilang, “Coba ini, mungkin cocok,” bukan “Kamu harus begini!”
Dari pengalaman membaca puluhan buku parenting, yang paling berbekas justru yang punya voice ringan tapi dalam. Mereka ngajak diskusi, bukan ceramah.
Kriteria Buku Parenting yang Nyaman Dibaca
Sebelum ke rekomendasi, ini kriteria pribadi yang aku gunakan:
- Bahasa yang manusiawi: Tidak terlalu akademis, tapi juga tidak terlalu casual sampai tidak berbobot.
- Contoh konkret: Cerita nyata yang bisa aku bayangkan terjadi di rumahku.
- Ruang untuk bereksperimen: Mengajak pembaca mencoba, bukan mematuhi.
- Tidak membangun rasa bersalah: Mengakui bahwa orang tua juga manusia yang lelah.
Kriteria sederhana ini bikin proses membenuk jadi terapi, bukan tambahan beban.
Rekomendasi Buku Utama
Empat buku ini sudah aku baca berulang kali, dan setiap kali selalu ada hal baru yang bisa dipetik.
1. How to Talk So Kids Will Listen & Listen So Kids Will Talk – Adele Faber & Elaine Mazlish
Buku ini legenda, tapi nggak pernah terasa ketinggalan zaman. Tekniknya sederhana: acknowledge feelings sebelum memberi saran.
Aku masih ingat saat anakku nangis gara-gara mainan jatuh. Alih-alih bilang “Nggak apa-apa,” aku coba, “Mainanmu jatuh, kamu sedih ya.” Magic. Air mata berhenti lebih cepat.
Yang aku suka: buku ini penuh komik strip ilustrasi. Jadi nggak membosankan. Plus, ada latihan-latihan praktis yang bisa langsung dicoba. Catatan: Meski judulnya “Kids,” tekniknya berlaku untuk balita hingga remaja.
2. The Danish Way of Parenting – Jessica Joelle Alexander & Iben Sandahl
Kalau buku pertama fokus komunikasi, yang ini fokus pada mindset. Konsep hygge bukan sekadar soal lilin dan teh hangat, tapi soal kualitas waktu bersama tanpa gangguan.
Penulisnya menghindari nada preachy. Mereka justru sering bilang, “Kami juga tidak sempurna.” Aku suka bagian tentang reframing: mengubah “dia bandel” jadi “dia belum bisa mengatur emosi.”
Poin kuat: buku ini berbasis riset tapi disampaikan dengan cerita. Statistiknya ada, tapi tidak menakutkan. Rasanya seperti ngobrol dengan teman yang kebetulan pakar parenting.
3. The Whole-Brain Child – Daniel J. Siegel & Tina Payne Bryson
Buku ini sedikit lebih teknis, tapi tetap accessible. Penjelasan tentang otak kanan vs kiri membantuku paham mengapa logika tidak selalu bekerja pada anak yang sedang tantrum.
Metode Connect and Redirect jadi favoritku: connect dulu secara emosional, baru redirect ke solusi. Praktisnya? Dekap dulu, baru ngomong.
Yang bikin buku ini tidak menggurui: mereka akui bahwa menerapkannya butuh latihan. Mereka bahkan kasih tips untuk saat kita gagal. “It’s okay to lose it sometimes,” kata mereka. Lega.
4. Raising Good Humans – Hunter Clarke-Fields
Buku ini spesial karena menggabungkan parenting dengan mindfulness. Bukan soal meditasi berjam-jam, tapi soal pause sebelum bereaksi.
Aku pernah baca buku mindfulness yang terlalu fluffy, tapi ini beda. Clarke-Fields kasih latihan napas 30 detik yang realistis untuk orang tua sibuk. Dia juga jujur soal kegagalannya sendiri.
Bagian tentang breaking reactive patterns bikin aku introspeksi. Ternyata banyak reaksiku yang otomatis dari trauma kecilku sendiri. Buku ini jadi terapi ringan.
Buku Lokal yang Tidak Kalah Menyenangkan
Parenting tidak selalu harus dari Barat. Beberapa penulis lokal juga punya voice yang sama hangatnya.
Parenting Alá Indonesia: Mengasuh Anak dengan Cara Kita karya beberapa penulis kolaborasi. Buku ini merangkum pengalaman orang tua Indonesia dari berbagai latar belakang.
Yang bikin beda: mereka tidak menghakam tradisi. Justru mereka ajak kita menyaring nilai-nilai lokal yang masih relevan. Contohnya soal “tak kenal maka tak sayang”—bagaimana memodernisasi itu tanpa menghilangkan esensinya.
Bahasanya ringan, penuh humor Indonesia. Aku sering tersenyum sendiri baca bab tentang “mertua dan pilihan parenting.” Terasa dekat.
Membandingkan Pendekatan: Mana yang Paling Cocok?
Mungkin ini membantu memilih:
| Buku | Fokus Utama | Gaya Bahasa | Cocok untuk |
|---|---|---|---|
| How to Talk… | Komunikasi praktis | Komik strip, ringan | Orang tua yang suka contoh visual |
| The Danish Way | Mindset & kultur | Naratif, hangat | Yang mau ubah perspektif besar |
| The Whole-Brain Child | Neuroscience praktis | Ilustrasi sederhana | Yang mau paham “kenapa” |
| Raising Good Humans | Kesadaran diri | Reflective, tenang | Yang merasa sering “meledak” |
| Parenting Alá Indonesia | Konteks lokal | Humoristis, familiar | Yang mau akar budaya |
Semua punya kekuatan masing-masing. Aku sendiri kombinasikan semuanya, tergantung fase anak dan kondisi mentalku.
Tips Memilih Buku yang Tepat untuk Gaya Parentingmu
Tidak perlu beli semua. Cukup satu atau dua yang paling resonate. Ini caranya:
- Identifikasi masalah terbesarmu saat ini. Apakah komunikasi? Tantrum? Atau perasaan bersalahmu sendiri?
- Cari sampel bab online. Baca beberapa halaman. Apakah bahasanya membuatmu nyaman atau justru tertekan?
- Tanya komunitas orang tua. Tapi ingat, yang cocok untuk mereka belum tentu untukmu. Gunakan rekomendasi sebagai filter, bukan patokan.
- Pilih yang punya latihan praktis. Buku yang hanya teori biasanya cepat tertinggal di rak.

Ingat: buku hanya panduan, bukan kitab suci. Kalau satu teknik tidak bekerja, bukan berarti kamu gagal. Mungkin belum waktunya, atau memang tidak cocok untuk kepribadian anakmu.
Kesimpulan: Membaca sebagai Ritual, Bukan Tugas
Parenting adalah perjalanan panjang. Buku-buku ini teman ngobrol, bukan pengawas. Mereka ada untuk mengingatkan: kamu tidak sendiri, kamu cukup, dan anakmu akan baik-baik saja.
Pilih satu buku. Baca perlahan. Coba satu teknik. Rayakan keberhasilan kecil. Kalau gagal, tertawa dan coba lagi besok. Itu saja.
Yang terpenting: trust your instinct. Buku hanya memperkuat apa yang sebenarnya sudah kamu tahu dalam hati. Selamat membaca, dan selamat menemukan suaramu sendiri dalam parenting.