Sejam macet di ruas Thamrin–Sudirman, Spotify sudah muter semua playlist, dan Instagram terasa terlalu ramai. Kadang yang dibutuhkan bukan sekadar hiburan, tapi cerita yang get banget sama dinamika hidup di kota ini. Buku yang ngerti gimana rasanya nabung setengah gaji demi apartemen bercita-cita, atau bertemu mantan di kawasan SCBD yang sama sekali nggak sengaja.

Metropop Indonesia jadi jawabannya. Genre ini lebih dari sekadar roman ringan; jadi cermin kehidupan urban kita yang sarat tuntutan, mimpi, dan ketidakpastian. Berikut rekomendasi novel yang nggak cuma asik dibaca, tapi juga bikin kamu manggut-manggut sambil berbisik, “Aku juga begitu.”

Apa Sih yang Bikin Metropop Itu “Jakarta Banget”?

Sebelum masuk daftar, penting dulu buat sepakat: metropop bukan cuma setting-nya Jakarta. Tapi spirit-nya. Tokoh-tokohnya punya ambisi yang nyaris mustahil, terjebak dalam rutinitas yang mahal, dan terus bernegosiasi antara hati versus logika finansial. Ini genre yang mengabadikan gaya hidup metropolitan dengan segala absurditasnya.

5 Novel yang Nggak Cuma Cerita, tapi Pengalaman

1. Janshen – Almira Bastari

Kalau pernah ngerasain gaji 5 jutaan tapi tetep pengen nongkrong di coffee shop Senopati, kamu akan sreg sama Janshen. Almira Bastari dengan jeniusnya nulis perjalanan Risa, cewek asal Bandung yang nyoba peruntungan di Jakarta. Dari kos-kosan di daerah Tanjung Duren hingga karier di media yang nggak sesuai ekspektasi.

Yang paling relate? Detail finansialnya. Almira nggak cuma bilang “Risa ngirit,” tapi sampai hitung-hitungan: makan sehari berapa, transportasi naik MRT vs ojek online, dan gimana cara nabung buat beli sepatu branded tapi tetap bisa bayar kos. Ini novel yang jujur soal quarter-life crisis tanpa dramatisasi berlebihan.

Baca:  Review Novel Gadis Kretek: Bedanya Versi Buku Dan Serial Netflix

2. Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa – Maudy Ayunda

Mungkin kamu kenal Maudy Ayunda sebagai aktris atau penyanyi. Tapi di buku ini, dia jadi storyteller yang surprisingly dalam. Novel ini menceritakan Alana, cewek 24 tahun yang stuck di pekerjaan yang “aman” tapi nggak bikin bahagia. Suatu hari dia memutuskan resign dan nyoba jadi penulis—tepat saat Jakarta mulai panas-panasnya isu PHK massal.

Buku ini relate buat siapa pun yang pernah ngerasain impostor syndrome di kantor, atau takut gagal di usia yang seharusnya sudah “mapan.” Maudy menulis dengan bahasa yang poetic but grounded, bikin kamu merenung sambil tetap bisa tersenyum lihat kejenakaan Alana.

Kalau kamu pernah nangis di kamar kos sambil ngerasa nggak cukup baik, buku ini pelukan yang kamu butuhkan.

3. Tentang Kamu – Tere Liye

Tere Liye mungkin lebih dikenal dengan fantasi epiknya, tapi di Tentang Kamu dia membuktikan bisa jadi master metropop juga. Kisah Virgo, pria yang pulang ke Jakarta setelah bertahun-tahun di luar negeri, dan harus berhadapan dengan masa lalu yang nggak kunjung selesai.

Setting Jakarta-nya kuat banget: dari gang sempit di Palmerah hingga kantor-kantor megah di Kuningan. Tere Liye piawai menggambarkan bagaimana kota ini bisa jadi character tersendiri—tempat yang menjanjikan sekaligus menghukum. Dialog-dialognya witty, alur lambat tapi purposeful, cocok buat pembaca yang suka meresapi atmosfer.

4. Komet – Tere Liye

Masih dari Tere Liye, tapi dengan nuansa lebih ringan dan cepat. Komet bercerita tentang Maudy (bukan nama asli penulis ya, tapi tokoh), seorang programmer di startup Jakarta yang tiba-tiba harus bekerja sama dengan mantan kekasihnya. Drama? Pasti. Tapi yang bikin special adalah insight soal dunia startup Jakarta: dari meeting tanpa akhir, kultur overtime, hingga mimpi unicorn yang nggak semua orang paham.

Baca:  5 Novel Agatha Christie Terbaik Selain "And Then There Were None" (Hidden Gems)

Tokoh utamanya cerdas dan mandiri, nggak jadi damsel in distress. Ini refreshing banget buat metropop yang kadang terlalu fokus pada cinta-cintaan semata.

5. Jika Esok Ibu Masih Ada – Ika Natassa

Ika Natassa adalah queen metropop Indonesia, dan buku ini adalah bukti kenapa. Kisah Rania yang harus menyeimbangkan karier tinggi di dunia keuangan Jakarta, hubungan dengan mama yang perfectionist, dan trauma masa lalu yang nggak bisa dihindari. Buku ini layered: soal keluarga, soal cinta, tapi juga soal survival di kota yang nggak kenal lelah.

Yang bikin relate? Hubungan ibu-anak. Banyak orang Jakarta yang merasakan tekanan dari keluarga untuk “sukses” menurut standar orang tua. Ika Natassa menangkapnya dengan tulus, tanpa menghakimi siapa pun.

Gimana Cara Pilih Metropop yang Pas Buat Kamu?

Nggak semua metropop dibuat sama. Ada yang fokus drama, ada yang fokus karier. Pilih berdasarkan mood dan kebutuhan:

  • Mau yang realistis soal finansial?Janshen
  • Butuh motivasi di tengah quarter-life crisis?Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa
  • Suka atmosfer Jakarta yang gelap-misterius?Tentang Kamu
  • Penasaran dengan dunia startup?Komet
  • Cari cerita soal keluarga dan tekanan sosial?Jika Esok Ibu Masih Ada

Catatan Penting: Kelebihan & Kekurangan Metropop Lokal

Sebagai genre, metropop Indonesia punya kekuatan utama: relatability. Kamu nggak perlu mikir terjemahan budaya atau setting yang asing. Bahasanya juga ringan, bikin bisa selesai dalam dua–tiga hari.

Tapi ada kelemahan umum: terkadang plotnya bisa diprediksi, dan karakter cenderung stereotip (ceweknya naif, cowoknya sempurna). Beberapa penulis juga masih terjebak dalam product placement berlebihan—nama mall, kafe, atau brand disebut terus menerus sampai mengganggu alur.

Yang terpenting: pilih penulis yang punya voice kuat. Mereka yang mampu bikin kamu peduli sama tokohnya, bukan sekadar setting-nya.

Penutup: Jakarta dalam Kertas

Membaca metropop Indonesia itu seperti ngobrol lama dengan sahabat di kafe favorit. Kamu ketawa, sedih, dan akhirnya sadar: kamu nggak sendirian dalam perjuangan ini. Setiap macet, setiap tagihan, setiap mimpi yang kadang terasa mustahil—semua itu diceritakan dengan cara yang manusiawi.

Jadi, selamat membaca. Siapa tahu, di salah satu halaman itu kamu menemukan jawaban yang selama ini kamu cari-cari di antara gedung-gedung pencakar langit Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

5 Novel Agatha Christie Terbaik Selain “And Then There Were None” (Hidden Gems)

Kebanyakan pembaca mengenal Agatha Christie hanya lewat And Then There Were None—dan…

5 Novel Thriller Terjemahan Dengan Plot Twist Terbaik (Susah Ditebak)

Sebenarnya sudah muak dengan thriller yang klise, kan? Yang pelakunya ketebak dari…

Review Novel Cantik Itu Luka: Eksplisit, Gelap, Tapi Masterpiece?

Ada buku yang bikin kamu merasa perlu mandi setelah membacanya—bukan karena jorok,…

Bumi Manusia Vs Pulang (Leila S Chudori): Membandingkan Dua Novel Sejarah Terbaik

Memilih antara Bumi Manusia dan Pulang bagai memilih antara dua kenangan sejarah…