Ketika buku ini muncul di mana-mana, dari etalase toko buku hingga feed Instagram, saya ikut was-was. Apa iya cuma soal cuek dan seenaknya? Ternyata, Mark Manson punya cara tersendiri untuk membuat kita menengok ke dalam, sambil ngelus dada sambil ketawa getir.

Hype yang Bikin Curiga, Tapi…

Judulnya memang provokatif. Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat terdengar seperti buku self-help abal-abal yang bakal suruh kita jadi orang tak peduli. Tapi begitu halaman pertama dibuka, Manson langsung bilang: ini bukan soal tak peduli, tapi soal peduli pada hal yang benar.

Yang bikin beda adalah nada. Manson nggak jadi guru yang sok tahu. Dia malah bercerita soal kegagalannya sendiri, kebingungannya, dan bagaimana dia pernah terjebak dalam perangkap “pengembangan diri” yang justru bikin lebih cemas. Rasanya seperti ngobrol dengan teman yang udah lebih dulu nyemplung ke lumpur kehidupan.

Intinya: Bukan Bodo Amat, Tapi Pilih Perang

Poin utama Manson sederhana tapi tajam: kita punya energi terbatas untuk dipedulikan. Masalahnya, kita sering habiskan energi itu untuk hal-hal yang sebenarnya nggak penting. Dari like di media sosial sampai drama kantor yang bikin kepala panas.

Konsep “Batasan” yang Nyata

Manson pakai analogi yang cukup gamblang: hidup itu seperti permainan. Kita punya sejumlah “fucks” yang bisa dibagikan. Kalau habis di hal kecil, ya nggak ada sisa buat hal yang benar-benar berarti. Ini bukan ajaran untuk jadi apatis, tapi untuk jadi lebih selektif.

Baca:  Review Buku The 5 Am Club: Realistiskah Diterapkan Di Indonesia?

Contoh konkretnya: dia cerita soal kliennya yang stres karena ingin disukai semua orang. Manson bilang, “Kalau semua orang suka sama kamu, berarti kamu nggak pernah ngomong apa-apa yang penting.” Ouch. Tapi bener.

Yang Bikin Nyaman: Narasinya yang Jujur

Buku self-help sering kali penuh dengan kalimat manis dan janji instan. Manson malah ngajak kita menerima kenyataan: hidup itu susah. Dan itu normal. Konsep backwards law-nya menarik: semakin kita berusaha keras merasa bahagia, semakin kita merasa nggak cukup.

  • Tanpa filter: Bahasanya kasar tapi tepat sasaran. Nggak ada basa-basi.
  • Contoh nyata: Dari perceraian, kegagalan bisnis, sampai ketakutan akan kematian.
  • Humor gelap: Bikin ketawa sambil mikir, “Aku juga gitu.”

Yang paling berkesan adalah bab tentang nilai. Manson bilang, masalah nggak akan pernah hilang. Yang bisa kita ubah adalah nilai yang kita pilih, sehingga masalah yang kita hadapi jadi berarti. Ini perspektif yang jarang dibahas di buku sejenis.

Tapi, Ada Juga Bagian yang Agak…

Nggak semuanya sempurna. Beberapa contoh di bab-bab akhir terasa dipaksakan. Manson coba masuk ke filsafat, tapi kadang cuma sekadar menggugah tanpa penjelasan lebih dalam. Misalnya soal eksistensialisme, dia sebutin tapi nggak dibahas sampai ke akar.

Lalu, humor yang kasar itu bisa jadi pedang bermata dua. Buat yang nggak terbiasa, bisa terasa ofensif. Ada satu-dua lelucon yang agak ragu-ragu, terutama soal hubungan, yang kalau nggak dibaca dalam konteks penuh bisa disalahartikan.

Kalau kamu cari buku yang bakal suruh kamu berpikir positif terus, ini bukan buku itu. Tapi kalau kamu butuh teman ngobrol yang bilang, “Hidup memang susah, tapi kita bisa kok,” maka ini tepat.

Siapa yang Bakal Connect, Siapa yang Nggak

Buku ini bukan untuk semua orang. Kalau kamu lagi dalam fase butuh motivasi manis dan langkah-langkah konkret 1-2-3, mungkin bakal kecewa. Tapi kalau kamu lagi lelah dengan semua tekanan untuk “jadi lebih baik” dan butuh perspektif yang lebih… manusiawi, buku ini bisa jadi pelukan.

Baca:  Filosofi Teras Vs The Daily Stoic: Mana Buku Stoik Terbaik Untuk Pemula?
Kamu Bakal Suka Kalau: Mungkin Skip Kalau:
Lelah dengan toxic positivity Suka solusi praktis dan terstruktur
Suka humor sarkasme Takut kata-kata kasar
Mau refleksi diri yang dalam Cari quick fix instan

Kesimpulan Pribadi: Lebih dari Sekadar Hype

Setelah membalik halaman terakhir, saya nggak langsung jadi orang yang super tenang. Tapi ada sesuatu yang berubah: cara saya melihat kekhawatiran. Tantangan terbesar bukan menghilangkan masalah, tapi belajar menerima dan memilih mana yang pantas dipedulikan.

Buku ini seperti pukulan di wajah yang justru bikin sadar. Nggak nyaman, tapi perlu. Manson berhasil menyampaikan ide lama dalam paket baru yang segar. Nggak ada janji muluk, cuma ajakan untuk lebih jujur sama diri sendiri.

Ya, hype-nya ada. Tapi di dalamnya juga ada isi yang cukup padat buat yang mau meluangkan waktu. Bukan buku ajaib, tapi teman ngobrol yang pas di saat kita mulai muak dengan suara-suara yang bilang kita harus bahagia terus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Daftar Buku Untuk Self-Healing Dan Mengatasi Overthinking Di Malam Hari

Malam hari punya cara tersendiri untuk mengajak semua pikiranmu berpesta. Saat lampu…

Review Filosofi Teras (Henry Manampiring): Stoikisme Untuk Gen Z Yang Mudah Cemas

Kecemasan jadi teman sehari-hari banyak orang muda sekarang. Kita hidup di era…

Review Buku The 5 Am Club: Realistiskah Diterapkan Di Indonesia?

Pernah merasa gagal hanya karena tidak bisa bangun jam 5 pagi? The…

Atomic Habits Vs The Power Of Habit: Mana Yang Lebih Efektif Mengubah Kebiasaan?

Pernah berdiri di rak buku self-help, menggenggam dua buku tentang kebiasaan, dan…