Pernah merasa gagal hanya karena tidak bisa bangun jam 5 pagi? The 5 AM Club bikin kita semua merasa seperti pecundang. Robin Sharma punya formula menarik, tapi di sini—di negeri dengan macet legendary dan kebiasaan ngabuburit—pertanyaannya: realistiskah?

Inti yang Sederhana Tapi Berani

Sharma bilang: bangun jam 5 pagi, lalu habiskan 60 menit pertama dengan formula 20/20/20. 20 menit berolahraga, 20 menatap jiwa, 20 belajar sesuatu. Konsepnya keren. Tapi buku ini tebalnya 300 halaman hanya untuk bilang itu.

Yang bikin saya tersentil adalah cerita fiksinya. Tentang pengusaha dan seniman yang ketemu miliarder misterius. Plotnya klise, tapi jujur—saya justru ingin cepat-cepat tahu endingnya. Terpaksa baca “cerita” demi “pelajaran”.

Kencang di Pagi Hari: Mimpi atau Mustahil?

Di Jakarta, Surabaya, atau Bandung, tidur jam 10 malam itu adalah privilege. Pulang kerja jam 7 malam karena macet, makan, mandi, ngurus anak, sudah jam 11. Mau tidur jam 10? Impian.

Data dari Jakpat tahun 2022: 67% pekerja Jakarta tidur di atas jam 11 malam. Alasan utamanya? Commute time yang panjang dan kebutuhan me time di malam hari. Kita semua korban jam kerja yang tidak manusiawi.

Jadi ketika Sharma bilang “tidur jam 8-9 malam”, saya tertawa getir. Itu bukan untuk kita. Itu untuk mereka yang tinggal 10 menit dari kantor.

Baca:  Review The Courage To Be Disliked: Solusi Untuk Kamu Yang Sering People Pleaser

Formula 20/20/20: Ketika Teori Bertemu Realita

Ide pembagian waktu ini sebenarnya bagus. Terstruktur. Tapi coba terapkan di rumah kontrakan dengan satu kamar mandi untuk 5 orang. Atau di rumah dengan bayi yang menangis jam 4 pagi.

Move: Olahraga di Pagi Buta

Sharma sarankan HIIT atau lari. Tapi di komplek saya, jalanan bergelombang, trotoar ditempati pedagang, dan polusi udara pagi itu real. Mau pakai treadmill? Butuh ruang dan uang.

Alternatif realistis: stretching di kasur atau yoga selama 10 menit. Bukan 20 menit. Tapi ya sudah, lebih baik dari pada tidak sama sekali.

Reflect: Merenung Sementara Tetangga Nyalain Motor

Bagian meditasi, journaling, doa. Ini bagian favorit saya. Tapi tantangannya: noise. Suara adzan dari jarak 200 meter, motor tetangga, truk lewat.

Solusi? Pakai earplug atau noise-cancelling headphone. Investasi yang sebenarnya worth it untuk kesehatan mental. Saya coba 5 menit meditasi, hasilnya lebih tenang seharian.

Grow: Belajar Sementara Pikiran Masih Kepikiran Tagihan

Baca buku atau dengar podcast. Idealnya. Tapi di pagi hari, pikiran sudah ramai mikir deadline, anak sakit, atau tagihan listrik. Konsentrasi buyar.

Yang bekerja untuk saya: baca satu bab saja, atau dengar podcast 15 menit sambil siap-siap sarapan. Tidak perlu sempurna. Yang penting konsisten.

Tantangan Khas Indonesia: Bukan Alasan, Tapi Realita

Mari kita jujur. Buku ini ditulis untuk pembaca Barat dengan infrastruktur yang mendukung. Kita punya realita lain.

Asumsi Buku Realita Indonesia
Tidur jam 8-9 malam Pulang jam 7-8 malam, tidur jam 11-12 malam
Ruang olahraga aman Jalan rusak, polusi, minim fasilitas
Lingkungan tenang Rumah padat, suara kendaraan, tetangga dekat
Kontrol penuh atas waktu Macet tak terduga, overtime mendadak
Baca:  Review Buku Atomic Habits: Apakah Benar-Benar Bisa Mengubah Hidup Dalam 30 Hari?

Ini bukan untuk membuat kita jadi victim mentality. Tapi untuk mengakui bahwa one size fits all tidak bekerja di sini.

Adaptasi yang Masuk Akal: Tidak Harus 5 Pagi

Setelah 3 bulan coba-coba, saya temukan formula yang lebih manusiawi untuk Indonesia. Tidak perlu bangun jam 5. Tidak perlu sempurna.

Ini versi saya:

  1. Bangun 30-60 menit lebih awal dari biasanya. Kalau biasanya jam 6, coba jam 5.30. Cukup.
  2. 10-10-10 versi mini. 10 menit gerak, 10 menit duduk tenang, 10 menilai baca. Total 30 menit.
  3. Siapkan semua malam sebelumnya. Baju olahraga, buku, air putih. Redam gesekan.
  4. Jika gagal, coba lagi besok. Tidak ada self-blame. Yang pentuh coba lagi.

Yang terpenting: kenali ritme tubuhmu. Ada yang memang night owl. Memaksa jadi early bird hanya bikin depresi.

Kesan Akhir: Buku yang Bagus, Tapi Butuh Penerjemahan Budaya

The 5 AM Club punya hati yang baik. Sharma ingin kita hidup lebih bermakna. Tapi cara penyampaiannya terlalu idealis, terlalu “Barat”.

Kekuatannya: sistem 20/20/20 yang mudah diingat. Kelemahannya: mengabaikan konteks sosial-ekonomi.

Jangan jadi budak jam 5 pagi. Jadilah tuan dari waktumu sendiri. Kadang itu jam 5 pagi, kadang itu jam 6.30. Yang penting: itu waktumu, bukan waktu yang dipaksakan buku.

Buku ini layak dibaca, tapi dengan filter kritis. Ambil yang berguna, buang yang tidak relevan. Dan ingat: tidak ada formula kebahagiaan yang universal. Termasuk formula jam 5 pagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Review Buku Atomic Habits: Apakah Benar-Benar Bisa Mengubah Hidup Dalam 30 Hari?

Saya pernah skeptis dengan buku self-improvement yang berjanji transformasi kilat. Di rak…

Filosofi Teras Vs The Daily Stoic: Mana Buku Stoik Terbaik Untuk Pemula?

Pernahkah kamu berdiri di rak buku self-help, melihat Filosofi Teras dan The…

Atomic Habits Vs The Power Of Habit: Mana Yang Lebih Efektif Mengubah Kebiasaan?

Pernah berdiri di rak buku self-help, menggenggam dua buku tentang kebiasaan, dan…

Alasan Kenapa Saya Berhenti Membaca Buku The Secret (Review Jujur)

Saya berhenti membaca The Secret di halaman 127. Bukan karena bosan, tapi…