Ada buku yang bikin kamu merasa perlu mandi setelah membacanya—bukan karena jorok, tapi karena kotorannya menempel di pikiran. Cantik Itu Luka adalah salah satunya. Novel ini seperti kain perca sejarah Indonesia yang disulam dengan benang-benang magis, seksual, dan darah. Dan ya, semua rumor soal keeksplisitan dan kegelapannya benar adanya.

Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang lebih mengganggu: kenyataan bahwa luka-luka dalam buku ini bukan fiksi belaka. Mereka adalah luka kolektif yang masih menganga hingga hari ini.

Mengapa Buku Ini Menjadi “Wajib Baca” yang Menakutkan

Ketika orang bilang “masterpiece”, biasanya mereka merujuk pada teknik bercerita yang brilian. Eka Kurniawan memang punya itu. Tapi yang bikin Cantik Itu Luka berbeda adalah ia tak memberi jarak aman antara pembaca dan kebrutalan.

Perempuan-perempuan dalam novel ini dipukul, diperkosa, dijual, dan dibunuh—seringkali dalam deskripsi yang tak pernah meminta maaf. Kamu tak bisa bilang, “Ini kan hanya cerita.” Karena Eka menulis seolah-olah ia sendiri saksi mata. Dan itu yang bikin banyak orang merasa “terserang”.

Banyak yang mengeluh soal adegan seksualnya. Tapi menurutku, yang lebih eksplisit adalah kebencian struktural yang digambarkan. Buku ini tak hanya bercerita tentang perempuan yang disiksa; ia menunjukkan bagaimana sistem—kolonialisme, patriarki, militer—melakukannya dengan efisien.

Kekerasan sebagai Ritual

Bayangkan ini: Dewi Ayu, sang pelacur legendaris, dikubur hidup-hidup di awal cerita. Ia bangkit dari kuburannya setelah 21 tahun. Bukan sebagai hantu menakutkan, tapi sebagai perempuan yang masih ingin merokok dan bercinta. Ini bukan magic realism untuk pemanis; ini adalah metafora tentang perempuan Indonesia yang selalu “dikuburkan” oleh sejarah, tapi terus hidup.

  • Kekerasan fisik: Dari pemerkosaan massal di era Jepang hingga pembantaian 1965 yang digambarkan tanpa sensor.
  • Kekerasan psikologis: Anak-anak Dewi Ayu masing-masing mewarisi trauma dengan cara berbeda—Alamanda yang mencintai tentara, Adinda yang buta warna, Maya Dewi yang menjadi mata-mata.
  • Kekerasan magis: Hantu bayi yang merayap, babi ngepet yang jadi simbol keserakahan, serta kutukan yang turun-temurun.
Baca:  Bumi Manusia Vs Pulang (Leila S Chudori): Membandingkan Dua Novel Sejarah Terbaik

Masterpiece di Tengah Kekacauan: Kekuatan Naratif Eka Kurniawan

Marilah kita jujur: struktur novel ini tidak sempurna. Ada plot yang terserak, karakter yang muncul lalu hilang tanpa jejak, dan transisi waktu yang bikin pusing. Tapi itu bukan kelemahan—itu adalah cerminan kekacauan sejarah itu sendiri.

Eka menulis seperti dalang wayang yang mabuk. Ia tahu ceritanya, tapi ia sengaja membiarkan benang-benangnya kusut. Hasilnya? Kamu tak pernah tahu siapa protagonis sebenarnya. Dewi Ayu? Anak-anaknya? Atau bangsa Indonesia sendiri?

Data Sejarah yang Diselipkan Tanpa Basa-Basi

Di satu adegan, Eka menyebutkan bahwa tentara Jepang membunuh sekitar 4.000 perempuan di Kalimantan. Angka itu muncul begitu saja, tanpa penekanan. Seolah ia bilang, “Ini fakta. Deal with it.” Dan itu jauh lebih menakutkan daripada deskripsi kekerasan yang dramatis.

“Sejarah itu bukan pelajaran moral. Sejarah itu adalah luka yang berdarah, dan kita semua adalah perempuan yang terus-menerus dikubur hidup-hidup.”

Magical Realism: Pemanis atau Peluru?

Banyak kritikus menyebut gaya Eka sebagai “magical realism Indonesia”. Tapi aku tak setuju. Ini bukan One Hundred Years of Solitude versi Halimunda. Di sini, magic bukan pelarian—ia adalah manifestasi trauma.

Contoh: Alamanda bisa melahirkan bayi yang segera dewasa dalam semalam. Bukan karena ia sakti. Tapi karena ia tak punya waktu untuk menjadi ibu. Sejarah tak memberinya waktu. Jadi anaknya tumbuh sendiri, paksa, seperti negara Indonesia yang dipaksa dewasa sebelum waktunya.

Karakter yang Tak Minta Dibenci atau Dicintai

Dewi Ayu adalah protagonis paling antipati yang pernah kutemui. Ia jahat, egois, dan manipulatif. Tapi aku tak bisa membencinya. Karena Eka selalu menyisipkan satu kalimat yang mengingatkanku: ia adalah produk dari sistem yang lebih jahat.

Baca:  Review Novel Laut Bercerita: Kenapa Buku Ini Bikin Pembaca Nangis?

Anak-anaknya? Mereka seperti varian trauma yang berbeda-beda:

  • Alamanda: Cinta buta pada kekuasaan (simbol elite Indonesia pasca-kemerdekaan).
  • Adinda: Buta warna—hanya melihat hitam-putih, tak bisa lihat nuansa (simbol generasi yang dibrainwash).
  • Maya Dewi: Mata-mata yang akhirnya kehilangan identitas (simbol aktivis yang ditelan gerakan).
  • Beauty: Cantik sempurna tapi mati di dalam (simbol negara yang terlihat gemilang tapi hancur).

Debat “Eksplisit”: Kapan Kekerasan Menjadi Kewajaran?

Pertanyaan penting: apakah semua keeksplisitan ini perlu? Aku punya dua jawaban.

Untuk seksualitas, kadang-kadang ia terasa gratuitous. Ada adegan yang bisa dipotong tanpa merusak narasi. Tapi untuk kekerasan politik—terutama pembantaian 1965—aku berterima kasih Eka tak menyensor. Karena di Indonesia, kekerasan itu justru yang disensor dari sejarah resmi.

Jadi ya, mungkin buku ini eksplisit. Tapi mungkin juga kita yang terlalu takut melihat cermin.

Pengalaman Membaca: Untuk Siapa Buku Ini?

Jujur saja, aku butuh tiga minggu untuk menyelesaikan buku ini. Bukan karena tebal—560 halaman itu lumayan—but because I had to keep putting it down. Ada malam-malam di mana aku harus berhenti di tengah bab karena rasanya seperti ada yang duduk di dadaku.

Tapi setiap kali aku kembali, aku menemukan sesuatu yang baru: lelucon gelap yang kulewatkan, metafora yang terselip, atau sekadar detail sejarah yang tiba-tiba menjelaskan kenapa Indonesia hari ini begitu-begitu saja.

Rekomendasi Pembaca:

  • Cocok untuk: Kamu yang muak dengan sejarah versi resmi, yang ingin lihat sisi gelap manusia tanpa filter.
  • Tidak cocok untuk: Kamu yang mencari katarsis manis, atau yang mudah tersinggung dengan kekerasan seksual dan politik.
  • Persiapan: Jangan baca di kamar sendirian tengah malam. Siapkan teh dan teman untuk diskusi.

Kesimpulan: Luka yang Wajib Dijenguk

Di akhir pembacaan, aku tak bisa bilang “aku senang membaca buku ini.” Karena itu bakal terdengar salah. Tapi aku berterima kasih telah membacanya. Seperti berterima kasih pada dokter yang menyebutkan diagnosis kanker: menyakitkan, tapi perlu.

Cantik Itu Luka bukan masterpiece karena sempurna. Ia masterpiece karena berani jadi luka itu sendiri. Ia tak memberi solusi, tak memberi harapan palsu. Ia hanya berkata, “Ini yang terjadi. Lihat.”

Dan mungkin, setelah melihat luka itu, kita bisa mulai memikirkan obatnya. Bukan obat yang instant, tapi obat yang butuh waktu sepanjang hidup.

Final verdict: Baca. Jangan di malam hari. Dan jangan lupa bernapas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Bumi Manusia Vs Pulang (Leila S Chudori): Membandingkan Dua Novel Sejarah Terbaik

Memilih antara Bumi Manusia dan Pulang bagai memilih antara dua kenangan sejarah…

5 Novel Agatha Christie Terbaik Selain “And Then There Were None” (Hidden Gems)

Kebanyakan pembaca mengenal Agatha Christie hanya lewat And Then There Were None—dan…

Review Novel Gadis Kretek: Bedanya Versi Buku Dan Serial Netflix

Adaptasi selalu jadi ujian nyata untuk sebuah karya sastra. Ketika Netflix mengumumkan…

Rekomendasi Novel Metropop Indonesia Yang Relate Dengan Kehidupan Jakarta

Sejam macet di ruas Thamrin–Sudirman, Spotify sudah muter semua playlist, dan Instagram…