Adaptasi selalu jadi ujian nyata untuk sebuah karya sastra. Ketika Netflix mengumumkan serial Gadis Kretek, banyak yang bertanya-tanya: apakah kehangatan dan kekompleksan novel Ratih Kumala bisa diterjemahkan ke layar? Pengalaman saya menamatkan keduanya justru menimbulkan pertanyaan lebih banyak: sebenarnya, mana yang lebih dulu—telur atau ayam? Atau dalam konteks ini, baca dulu atau nonton dulu?

Perbedaan Nyata di Lapisan Naratif
Perbedaan paling mencolok ada di struktur cerita. Novelnya non-linear dengan lompatan waktu yang penuh kejutan. Serialnya, demi kenyamanan penonton massal, mengambil jalur kronologis yang lebih mudah diikuti.
Ratih Kumala menulis dengan cara yang hampir seperti merangkai kalung manik-manik. Tiap bab membawa kita ke era berbeda: 1960-an, 1980-an, dan 2000-an. Sementara Netflix memilih garis lurus, memulai dari Dasiyah muda dan bergerak maju perlahan.
Keputusan ini berdampak besar pada bagaimana kita sebagai audiens “mencintai” karakter. Di novel, kita tahu nasib seseorang duluan, lalu penasaran dengan perjalanannya. Di serial, kita ikut terkejut bersama mereka.
Kekuatan Novel yang Tidak Tergantikan
Yang paling saya rindukan dari novel adalah kemampuannya membuat kau mencium bau tembakau. Ratih Kumala menulis deskripsi yang begitu kaya—proses menggulung kretek, bau cengkeh yang menyengat, panasnya tungku pembakaran—sehingga pembaca hampir bisa merasakannya di kulit.
Interior monolog adalah senjata rahasianya. Kita masuk ke dalam kepala Dasiyah, Jeng Yah, dan Lebas. Kita tahu mengapa mereka takut, mengapa mereka memilih, meski pilihan itu tampak bodoh. Kita jadi pengkhianat kecil yang tahu semua rahasia.
Ada satu bab di tengah novel yang hanya berisi surat-surat keluarga. Format ini mustahil diadaptasi sempurna. Setiap surat membuka lapisan baru tentang dinamika keluarga Mbah Geni, sesuatu yang hanya bisa dirasakan lewat bacaan perlahan.
Detail Historis yang Terselip
Buku ini penuh riset. Ratih mencantumkan catatan kaki tentang sejarah kretek di Indonesia, bagaimana industri ini tumbuh bersama kolonialisme dan nasionalisme. Detail ini hilang di Netflix, karena visual harus menceritakan sendiri tanpa “kuliah” singkat.
- Proses pembuatan kretek tangan vs mesin
- Peran perempuan di pabrik kretek
- Hubungan antara pemilik pabrik dan pekerja
- Perubahan regulasi pemerintah era 1980-an
Kekuatan Serial yang Membuat Jatuh Cinta
Sebaliknya, Netflix menang di hal yang tidak bisa ditulis: musik dan visual. Lagu-lagu pilihan mereka untuk mengiringi setiap era benar-benar tepat. Ketika “Bengawan Solo” versi Gesang berkumandang, hatiku langsung berada di Surakarta tahun 1960-an.

Pilihan pemeran juga brilian. Dian Sastrowardoyo sebagai Jeng Yah tua tidak hanya tampak mirip, tapi membawa gravitas yang berbeda. Matanya sudah tahu banyak duka. Sementara Arya Saloka sebagai Lebas memberikan kejutan dengan kehalusan emosi yang tidak saya sangka dari sosok “Angling Dharma”.
Pacing serial lebih cepat, lebih digestible untuk penonton modern. Episode pertama langsung menelanmu dalam konflik. Novel butuh waktu lebih lama untuk membangun dunia, tapi ketika sudah masuk, kamu tidak bisa keluar.
Keputusan Adaptasi yang Berani
Ada beberapa perubahan cerita yang sebenarnya cerdas. Contohnya, tokoh Sastrodimedjo di serial digabungkan dengan karakter lain untuk menyederhanakan konflik. Ini membuat alur lebih fokus, meski sedikit mengurangi kompleksitas politik usaha kretek di novel.
Netflix juga menambahkan adegan-adegan aksi yang tidak ada di buku—perkelahian, kejar-kejaran. Ini mungkin untuk memuaskan selera penonton streaming yang butuh stimulasi visual konstan. Beberapa berhasil, beberapa terasa sedikit dipaksakan.
Karakter: Siapa yang Lebih Dalam?
Dasiyah di novel adalah perempuan yang lebih rumit. Kita tahu dia tidak sempurna. Ada keegoisan dalam pilihannya, ada kemarahan yang tidak terselesaikan. Di serial, dia lebih “heroik”, lebih mudut. Mungkin demi membuat penonton simpati.
Perbedaan paling signifikan ada di karakter Lebas. Di buku, Lebas adalah laki-laki yang pasif, hampir seperti pengamat. Di Netflix, dia jadi aktif, punya agency. Pilihan ini mengubah dinamika hubungannya dengan Dasiyah—dari cinta yang tidak terselesaikan menjadi kisah tragis yang lebih dramatis.
“Kita tidak hanya bercerita tentang kretek. Kita bercerita tentang cinta yang terbakar habis, seperti tembakau.”
Kalimat ini ada di novel, tapi diucapkan oleh karakter berbeda. Di serial, diberikan kepada Dasiyah di momen puncak. Perubahan kecil yang sebenarnya mengubah siapa yang punya “suara” dalam narasi.
Pesan dan Tema: Apa yang Terselamatkan?
Tema utama tentang perempuan di ruang patriarkal industri tetap kuat di keduanya. Tapi novel mengeksplorasi lebih dalam tentang bagaimana kretek sendiri adalah simbol kolonialisme—barang asli Indonesia yang dipaksa modernisasi oleh sistem.
Serial lebih fokus pada family drama dan forbidden love. Politiknya lebih ditekan, emosinya lebih dinaikkan. Ini bukan salah, tapi pilihan yang berbeda.
Saya merasa novel lebih berani dalam menunjukkan kegelapan industri kretek: eksploitasi pekerja, bahaya kesehatan yang diterima sebagai takdir. Netflix menyentuhnya, tapi tidak terlalu dalam—mungkin demi menghindari kontroversi.
Simbolisme yang Berbeda
Di novel, kretek adalah metafora untuk hubungan—rumit, melibatkan banyak elemen, perlu perawatan. Di serial, kretek lebih menjadi prop yang indah secara visual. Asapnya menari, tapi tidak selalu bercerita.
- Novel: Kretek = sejarah, politik, cinta
- Netflix: Kretek = estetika, nostalgia, drama
Kesimpulan: Mana yang Harus Kamu Konsumsi?
Jika kamu orang yang suka merenung, suka membaca antara baris, dan tidak keberatan dengan pace lambat demi kedalaman—baca novelnya dulu. Novel Gadis Kretek adalah pengalaman meditatif yang meminta kesabaran tapi memberi kepuasan luar biasa.
Tapi jika kamu tipe yang butuh stimulus visual, suka akting brilian, dan ingin cerita yang lebih mudah dicerna—tonton serialnya. Netflix berhasil membuat kisah ini relevan untuk penonton global tanpa kehilangan jati diri Indonesia.
Atau, lakukan seperti saya: baca novel sambil menonton serial, episode demi episode. Bandingkan. Debatin sendiri. Nikmati perbedaannya. Karena pada akhirnya, bukan soal mana yang lebih baik—tapi bagaimana keduanya saling melengkapi.
Kretek bukan hanya cerita. Kretek adalah cara kita melihat sejarah, melalui asap yang mengepul, baik di halaman kertas maupun layar LED.