Beberapa buku membuatmu terpana, tapi hanya segelintir yang berani merogoh isi perutmu hingga air mata jatuh tanpa izin. Laut Bercerita milik Leila S. Chudori termasuk yang terakhir. Bukan karena dramatis, tapi justru karena terlalu sunyi dalam mengungkap kehilangan yang tak pernah pulang.

1. Bukan Soal Tragedi, Tapi Soal Menanti

Buku ini bukan laporan hitam tentang tragedi 1998. Itu justru tipu dayanya. Leila mengajak kau masuk ke dalam dapur rumah tangga keluarga Laut, merasakan hangatnya meja makan yang perlahan dingin kursi kosong di seberang.

Pembaca diajak mengikuti Biru Laut, adik perempuan yang tumbuh dewasa sambil terus mengirim surat ke alamat yang tak pernah membalas. Setiap hari Minggu, ia duduk di kursi taman menunggu seseorang yang mungkin sudah tak punya wajah. Ini bukan pencarian, tapi ritual menahan luka.

2. Detail-Detail Kecil yang Menikam

Yang bikin nangis bukan adegan kekerasan, tapi barang-barang yang ditinggalkan. Jaket biru tua yang masih tergantung di lemari. Catatan harian berdebu dengan tulisan “Hari ini aku belajar tentang demokrasi.” Secangkir kopi yang tak diminumkan.

Leila seperti menyelinap ke dalam ingatan paling pribadi. Kau bisa mencium bau kertas surat lama dan mendengar suara ibu yang terus menyimpan piring untuk “tamu” yang tak datang-datang.

“Laut tidak pernah kembali. Tapi rumah kami terus meluaskan ruang untuknya.”

Kalimat itu saja cukup membuatku terdiam berjam-jam. Bayangkan hidup di rumah yang setiap sudutnya adalah monumen kehilangan.

Baca:  5 Novel Agatha Christie Terbaik Selain "And Then There Were None" (Hidden Gems)

3. Laut sebagai Metafora yang Hidup

Judul ini bukan sekadar nama tokoh. Laut adalah karakter hidup yang menelan rahasia, menampung dendam, dan menawarkan ilusi kebebasan. Ayah Laut, seorang nelayan, percaya laut akan mengembalikan anaknya. Ibu Laut takut laut hanya akan memuntahkan mayat.

Biru Laut sendiri belajar menyelam, bukan untuk bersenang-senang, tapi untuk berdialog dengan kemungkinan-kemungkinan. Setiap kali ia masuk air, ia mencari bukti, bukan mayat. Ia mencari jawaban yang bahkan laut tak berani bisikkan.

Metafora ini hidup karena Leila tidak menjelaskannya. Kau yang merasakan. Kau yang tenggelam.

4. Trauma yang Tak Tuntas

Buku ini menolap klise “move on.” Keluarga Laut tidak sembuh. Mereka hanya belajar mengubah rasa sakit menjadi nafas. Setiap perayaan ulang tahun adalah pengingat. Setiap berita tentang penggalian massal adalah pukulan ulang.

Leila menunjukkan bagaimana trauma kolektif bekerja: stigma, bisu, dan amnesia terpaksa. Tetangga menghindar, seolah kehilangan itu menular. Dokumen hilang, sejarah ditarik mundur. Dan keluarga korban hanya bisa menelan, karena berteriak berarti hilang juga.

5. Kekuatan Narasi: Fiksi yang Terasa Fakta

Yang membuat Laut Bercerita berbeda adalah teknik dokumentasinya. Leila menyelipkan wawancara, surat-surat asli, dan transkrip percakapan. Kau tak tahu mana yang fiksi, mana yang nyata.

Ini bukan trik. Ini penghormatan. Ia memberikan suara kepada yang dibungkam. Ketika kau membaca surat Laut dari Amsterdam, kau merasakan kegugupannya, idealismenya, dan kepolosannya yang akan dirampas.

Angka pun diajak bicara: 13 penggiat hilang pada 1997-1998, ratusan keluarga menanti, dan nol keadilan. Angka-angka ini tidak mengeringkan air mata. Justru membuatnya lebih berarti.

Kenapa Air Mata Mengalir?

Menangis membaca buku ini bukan lemah. Tapi karena beberapa pukulan tepat sasaran:

  • Kebenaran yang Dihindari: Kita semua tahu tragedi 1998, tapi Leila memaksa kita menghadapinya tanpa sensor.
  • Keintiman yang Disakiti: Ia menunjukkan bagaimana kekerasan negara meretas ranah paling pribadi: meja makan, kamar tidur, foto keluarga.
  • Kekalahan yang Abadi: Tidak ada kemenangan di sini. Hanya kekalahan yang diterima dengan harga diri.
  • Cinta yang Tak Dapat Dibunuh: Ibu tetap menyisakan tempat di meja. Adik tetap menulis surat. Cinta tidak tunduk pada kekuasaan.
Baca:  Rekomendasi Novel Metropop Indonesia Yang Relate Dengan Kehidupan Jakarta

Catatan untuk Pembaca

Buku ini bukan untuk yang mencari pelarian. Ini untuk yang berani mendengar bisikan-bisikan dari masa lalu yang belum selesai. Jika kau pernah kehilangan seseorang tanpa kata perpisahan, Laut Bercerita akan menjadi surat pengakuan yang kau tunggu-tunggu.

Siapkan tisu. Bukan karena kau lemah, tapi karena kau masih manusia.

“Sejarah yang ditutup mulut akan terus menangis dalam diam.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Rekomendasi Novel Metropop Indonesia Yang Relate Dengan Kehidupan Jakarta

Sejam macet di ruas Thamrin–Sudirman, Spotify sudah muter semua playlist, dan Instagram…

Bumi Manusia Vs Pulang (Leila S Chudori): Membandingkan Dua Novel Sejarah Terbaik

Memilih antara Bumi Manusia dan Pulang bagai memilih antara dua kenangan sejarah…

Urutan Membaca Serial Bumi (Tere Liye) Agar Tidak Bingung Alur Ceritanya

Pernah nggak sih, kamu ngeliat deretan buku serial Bumi di rak toko…

Review Novel Gadis Kretek: Bedanya Versi Buku Dan Serial Netflix

Adaptasi selalu jadi ujian nyata untuk sebuah karya sastra. Ketika Netflix mengumumkan…