Kamu pernah nggak sih merasa lelah karena terus-menerus mencoba menyenangkan orang lain? Rasanya kayak hidup di tekanan konstan, takut disalahpahami, takut dibenci. Kalau iya, buku The Courage to Be Disliked mungkin adalah bacaan yang tepat untuk kamu. Bukan karena ini buku ajaib yang langsung mengubah hidupmu, tapi karena ia menawarkan cara pandang baru yang radikal—bahwa kamu sebenarnya bebas dari penilaian orang lain.

Mengapa Buku Ini Berbeda dari Buku Self-Help Lain

Buku ini pakai format dialog yang cukup unik. Seorang filsuf muda berdialog dengan seorang pemuda yang skeptis. Mereka ngobrolin teori Alfred Adler, psikolog abad ke-20 yang sering dianggap rival Freud. Gaya dialog ini bikin konsep-konsep berat jadi lebih mudah dicerna, tapi di sisi lain, kadang terasa berulang dan membosankan.

Yang bikin buku ini spesial: ia langsung menyerang akar masalah people pleaser—ketakutan akan penolakan. Bukan cuma memberi tips “belajar bilang tidak”, tapi menanyakan lebih dalam: “Mengapa kamu butuh pengakuan dari orang lain sejak awal?”

Konsep Utama yang Bakal Nge-Gantung di Pikiranmu

1. Separation of Tasks: Batasan yang Menyelamatkan

Ini inti dari seluruh buku. Prinsipnya sederhana: pisahkan “tugas kamu” dan “tugas orang lain”. Kamu cuma bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan. Reaksi, penilaian, bahkan kebencian orang lain? Itu bukan urusanmu.

Dulu aku pikir konsep ini egois. Tapi ternyata, ini justru yang paling praktis. Misalnya: kamu presentasi di kantor. Tugasmu: siapkan materi, sampaikan dengan jelas. Reaksi bos yang marah atau rekan yang mengkritik? Itu tugas mereka. Kamu nggak bisa kontrol, jadi nggak perlu khawatir berlebihan.

Baca:  Daftar Buku Untuk Self-Healing Dan Mengatasi Overthinking Di Malam Hari

2. Inferiority Complex vs. Inferiority Feeling

Adler bikin beda tipis tapi penting. Inferiority feeling adalah perasaan tidak cukup yang normal dan bisa jadi motivasi. Tapi inferiority complex adalah kamu menggunakan perasaan itu sebagai alasan untuk nggak bergerak.

Sebagai people pleaser, kita sering banget jatuh ke complex ini. “Aku nggak bisa ngomong jujur, soalnya aku orangnya nggak tegas.” Padahal itu cuma alasan untuk tetap nyaman di zona takut.

3. Lifestyle: Kamu yang Memilih

Konsep paling kontroversial: gaya hidupmu saat ini adalah keputusan yang kamu buat. Bukan karena masa lalu, bukan karena trauma. Kamu “memilih” jadi people pleaser karena ada keuntungan yang kamu dapat—misalnya, terhindar dari konflik.

Saat baca ini, rasanya kayak dipukul. Aku langsung mikir, “Bukannya ini victim-blaming?” Tapi setelah dipikir-pikir, ini justru memberi kekuatan. Kalau kamu yang memilih, berarti kamu juga bisa memilih ulang.

Bagaimana Buku Ini Mengubah Caraku Berinteraksi

Aku coba terapkan separation of tasks di kehidupan sehari-hari. Awalnya awkward banget. Ada teman yang minta tolong mengerjakan sesuatu yang nggak bisa aku kerjakan. Biasanya aku bakal iya-in aja, terus stres sendiri. Kali ini aku bilang, “Maaf, aku nggak bisa bantu karena waktuku nggak cukup.”

Hasilnya? Dia nggak marah. Cuma bilang, “Oh, oke deh.” Ternyata pikiran-pikiran burukku selama ini cuma ada di kepalaku sendiri.

Tapi ada juga momen gagal. Ada rekan kerja yang jadi menjauh setelah aku berhenti jadi “yes-man”. Itu bukti kalau separation of tasks nggak selalu manis. Kadang orang memang akan benci. Dan itu yang membutuhkan courage.

Kekuatan dan Kelemahan Buku Ini

Kekuatannya jelas: konsepnya radikal, solusi praktis, dan langsung ke inti. Buku ini nggak memberi kamu 10 langkah, tapi satu prinsip yang bisa diaplikasikan di mana aja. Plus, cara dialognya bikin pembaca merasa ikut dalam diskusi.

Baca:  Atomic Habits Vs The Power Of Habit: Mana Yang Lebih Efektif Mengubah Kebiasaan?

Tapi ada beberapa catatan penting:

  • Repetitif: Beberapa poin diulang-ulang sampai 3-4 kali. Bisa jadi ini sengaja untuk drilling, tapi buat yang udah paham, bisa membosankan.
  • Konteks Barat: Beberapa contoh dan nilai terasa nggak pas dengan budaya Asia yang lebih kolektif. Bilang “tidak” di Jepang atau Indonesia memang lebih berat.
  • Tidak untuk semua orang: Kalau kamu cari tips cepat dan checklist, ini bukan buku yang tepat. Ini lebih ke filsafat hidup yang butuh waktu untuk dicerna.

“Kamu tidak bisa mengendalikan hasil, tapi kamu bisa mengendalikan usaha. Dan usaha itulah satu-satunya hal yang perlu kamu khawatirkan.”

Pesan ini yang paling nempel. Sejak baca buku ini, aku jadi lebih berani ambil keputusan tanpa overthinking soal “gimana nanti kalau mereka nggak suka?”

Apakah Buku Ini Worth It untuk People Pleaser?

Depends. Kalau kamu siap diconfront dengan ide-ide yang bikin nggak nyaman, iya. Tapi kalau kamu butuh buku yang menenangkan dan bilang “kamu nggak apa-apa”, mungkin ini terlalu keras.

Buku ini nggak memberi kamu alasan untuk jadi egois. Itu miskonsepsi terbesar. Yang dia ajarkan adalah: berani hidup autentik, bukan hidup untuk orang lain. Dan itu butuh latihan, nggak instan.

Tips Membaca untuk Hasil Maksimal

Biar nggak cuma “wah keren” tapi nggak berubah, coba ini:

  • Baca pelan: Cuma 1-2 bab sehari. Tiap bab ada satu konsep berat yang butuh dicerna.
  • Catat trigger: Kalau ada kalimat yang bikin kamu defensive, itu tanda ada yang perlu di-refleksikan.
  • Terapkan langsung: Pilih satu situasi minggu ini untuk coba separation of tasks. Mulai dari yang kecil, kayak nolak ajangan nongkrong kalau memang nggak kuat.
  • Diskusikan: Cari teman yang juga baca buku ini. Ngobrolin bareng bikin konsepnya lebih nempel.

Verdict Akhir

The Courage to Be Disliked bukan buku yang sempurna, tapi tepat sasaran untuk people pleaser yang udah muak jadi tahanan ekspektasi orang lain. Ia nggak menawarkan jalan pintas, tapi revolusi cara pandang. Dan itu justru yang paling sustainable.

Kalau kamu siap berdamai dengan kemungkinan dibenci, buku ini adalah kawan diskusi yang worth it. Tapi ingat, keberanian bukan berarti nggak takut—tapi beraksi meski takut. Dan itu yang bikin perbedaan.

“Kebebasan sejati adalah dihargai bukan karena kamu menyenangkan semua orang, tapi karena kamu berani jadi dirimu sendiri.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Review Buku The 5 Am Club: Realistiskah Diterapkan Di Indonesia?

Pernah merasa gagal hanya karena tidak bisa bangun jam 5 pagi? The…

Review Filosofi Teras (Henry Manampiring): Stoikisme Untuk Gen Z Yang Mudah Cemas

Kecemasan jadi teman sehari-hari banyak orang muda sekarang. Kita hidup di era…

Filosofi Teras Vs The Daily Stoic: Mana Buku Stoik Terbaik Untuk Pemula?

Pernahkah kamu berdiri di rak buku self-help, melihat Filosofi Teras dan The…

Review Buku Atomic Habits: Apakah Benar-Benar Bisa Mengubah Hidup Dalam 30 Hari?

Saya pernah skeptis dengan buku self-improvement yang berjanji transformasi kilat. Di rak…