Pernah merasa gelisah setelah baca buku motivasi keuangan? Satu sisi ada Rich Dad Poor Dad yang bilang “beli properti, bikin cash flow, jadi bos!” Tapi di sisi lain, The Psychology of Money menyapa dengan kalimat, “Tenang, kekayaan itu lebih sering soal kesabaran daripada kecerdasan.” Dua suara yang kontradiktif, dan kita yang ditengah bingung: mana yang beneran masuk akal?

Kedua buku ini bukan saingan. Mereka bercerita dari dimensi yang berbeda. Kiyosaki berbicara tentang apa yang harus dilakukan dengan semangat revolusioner. Housel membahas mengapa kita sering gagal melakukannya dengan empati yang menyakitkan. Membandingkan keduanya ibandingkan membandingkan pisau dan termometer—keduanya penting, tapi fungsinya tak tukar ganti.

Dua Dunia yang Berbeda

Kiyosaki hidup di dunia aset vs liabilitas. Dunia di rumahmu adalah liabilitas, obligasi adalah surat utang, dan satu-satunya jalan keluar adalah membangun mesin uang yang bekerja untukmu. Sederhana. Hitam putih. Pengkotak-kotakan yang membuatmu ingin segera berhenti dari pekerjaan.

Housel hidup di dunia perilaku vs realitas. Dunia di mana keberuntungan dan risiko adalah kakak beradik, di mana bahkan investor paling cerdas bisa bangkrut karena satu keputusan emosional. Dunia di mana kesabaran bukan sekadar kata, tapi senjata super.

Inti yang Tidak Bisa Dibandingkan

Andaikan Rich Dad adalah pelatih sepak bola yang teriak “serang, serang, serang!” maka Psychology of Money adalah psikolog olahraga yang bisik, “tarik napas, kontrol emosimu, ingat strategi tim.” Keduanya benar. Tapi bergantung pada masalah apa yang sedang kamu hadapi.

Rich Dad Poor Dad: Semangat yang (Mungkin) Terlalu Optimis

Buku ini adalah spark plug. Baca di pagi hari, siangnya kamu sudah browsing rumah sewaan meski tabungan cuma cukup DP motor. Kiyosaki punya kekuatan dalam menyederhanakan konsep:

  • Aset adalah sesuatu yang memasukkan uang ke kantongmu
  • Liabilitas adalah sesuatu yang mengeluarkan uang dari kantongmu
  • Kekayaan adalah jumlah hari kamu bisa hidup tanpa bekerja

Tapi di sini letak kelemahannya: oversimplifikasi. Realita tidak sehitam putih itu. Rumah tempat tinggal bisa jadi liabilitas secara definisi Kiyosaki, tapi stabilitas mental dari punya tempat tinggal sendiri? Itu aset yang tak terukur. Belum lagi risiko leverage yang Kiyosaki abaikan. Banyak orang bangkrut 2008 karena terlalu percaya diri dengan “aset properti” yang ternyata bom waktu.

“Buku ini bagus untuk membuka pikiran, tapi buruk jika dijadikan satu-satunya kitab suci investasi.”

Data dari Statista menunjukkan bahwa 82% pebisnis kecil gagal dalam 5 tahun pertama. Kiyosaki tidak banyak bicara tentang statistik ini. Dia fokus pada 18% yang sukses, membuatmu merasa menjadi bagian dari minoritas istimewa. Padahal, bias survivorship adalah jebakan psikologis paling berbahaya dalam investasi.

Baca:  Review The Psychology of Selling: Teknik Jualan Kuno yang Masih Ampuh di Era Digital

The Psychology of Money: Realitas yang (Kadang) Menyedihkan

Morgan Housel tidak memberi resep. Dia memberi cermin. Bab demi bab, kamu melihat diri sendiri dalam setiap kegagalan finansial. Ada satu bab tentang pria yang beli saham seharga $5 juta lalu jadi $1,3 miliar—tapi tidak pernah menjual karena serakah. Di bab lain, ada cerita tentang investor yang konsisten tapi tidak spektakuler, pensiun dengan tenang karena tidak pernah ikut tren.

Kekuatan buku ini ada pada pengakuan akan ketidakpastian. Housel bilang, “Kamu bisa benar tapi tetap kalah.” Atau, “Kekayaan sebenarnya adalah apa yang kamu tidak lihat—yakni, aset yang tidak dibeli demi gaya hidup.”

“Menabung uang adalah bentuk kebebasan yang bisa kamu beli hari ini, bukan nanti.”

Studi dari Behavioral Finance Research menunjukkan 90% return portofolio bergantung pada perilaku investor, bukan pemilihan aset. Housel membahas ini dengan empati. Dia tidak menghakimi. Dia mengerti kenapa kamu takut, kenapa kamu serakah, kenapa kamu delay investasi.

Tapi kelemahannya? Tidak ada jalan praktis. Baca buku ini, kamu jadi paham diri sendiri. Tapi tetap tidak tahu harus beli saham apa, bagaimana analisis properti, atau kapan waktu yang tepat. Buku ini membuatmu lebih bijak, tapi belum tentu lebih kaya—setidaknya tidak dalam waktu dekat.

Titik Temu yang Menarik

Kedua buku sebenarnya melengkapi jika kamu mau jeli. Kiyosaki mengajarkan financial literacy dasar yang sekolah tidak ajar. Housel mengajarkan emotional literacy yang sekolah juga tidak ajar. Keduanya sama-sama marah pada sistem pendidikan yang gagal.

Kedua penulis setuju pada satu hal: waktu adalah aset paling berharga. Kiyosaki mengukurnya dengan cash flow. Housel mengukurnya dengan compound interest. Bedanya, Kiyosaki ingin kamu mempercepat waktu dengan leverage. Housel ingin kamu menghormati waktu dengan kesabaran.

Baca:  Buku Bisnis Wajib Baca Untuk Reseller Dan Umkm Yang Ingin Scale Up

Mana yang Cocok untuk Kamu?

Mari kita buat lebih konkret. Pilih kolom mana yang lebih menggambarkan kondisimu:

Kondisimu Baca Rich Dad Poor Dad Baca The Psychology of Money
Penghasilan pas-pasan, ingin mulai investasi ❌ Terlalu risky, bisa jadi FOMO ✅ Bangun fondasi mental dulu
Punya modal, tapi takut rugi ⚠️ Baca setengah-setengah, fokus pada mindset ✅ Pahami risiko dan emosimu
Sudah berinvestasi, tapi sering panik ❌ Tidak relevan ✅ Bisa jadi terapi finansial
Pengusaha muda dengan modal nekat ✅ Semangatnya pas, tapi hati-hati leverage ⚠️ Bacalah untuk balance
Umur 40+, ingin pensiun tenang ❌ Terlambat untuk model Kiyosaki ✅ Fokus pada konsistensi dan preservasi

Tes Cepat: Pilih Satu Pernyataan

  • “Saya ingin keluar dari kerja 9-5 dalam 5 tahun” → Rich Dad mungkin lebih menggugah, tapi waspadai jebakan.
  • “Saya ingin tidur nyenyak meski pasar crash” → Psychology of Money adalah jawabannya.
  • “Saya tidak tahu sama sekali soal uang” → Mulai dari Psychology of Money, baru Rich Dad sebagai suplemen.

Kesimpulan yang Tidak Menjawab

Sebenarnya, pertanyaan “mana yang masuk akal” adalah pertanyaan yang salah. Yang benar: “mana yang masuk akal untuk tahap hidupku sekarang?”

Jika kamu masih muda, punya daya juang tinggi, dan siap gagal berkali-kali—Rich Dad Poor Dad bisa jadi korek api yang menyalakan semangat. Tapi jangan lupa, 80% keputusan investasi yang gagal berasal dari overconfidence. Di sinilah Psychology of Money harus masuk sebagai pengingat.

Jika kamu sudah punya tanggungan, gaji sudah cukup, dan prioritasmu adalah stabilitas—Psychology of Money adalah panduan hidup. Kiyosaki bisa jadi bacaan ringan di akhir pekan, tapi jangan jadikan blueprint.

“Kekayaan sejati bukan soal berapa banyak uang yang kamu hasilkan, tapi seberapa sedikit drama finansial yang kamu miliki.”

Saya sendiri? Saya baca Rich Dad di usia 25, langsung beli properti kecil, untung 30%, lalu kalah 50% di properti berikutnya karena leverage. Psychology of Money datang di usia 30, dan barulah saya sadar: saya tidak rugi karena strategi, tapi karena perilaku. Kini, rumah saya tinggal di bawah nama pribadi—bukan perusahaan seperti Kiyosaki sarankan—dan saya tidur lebih nyenyak. Itu pilihan yang masuk akal untuk saya.

Pilihanmu mungkin berbeda. Yang penting, jangan percaya pada satu kitab suci. Dunia uang terlalu kompleks untuk satu formula. Baca keduanya, tapi percayalah pada nalarmu yang sudah dididik oleh keduanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Bedah Buku The Psychology Of Money: Poin Penting Untuk Karyawan Gaji Umr

Gaji UMR dan buku soal psikologi uang terdengar seperti kombinasi yang tidak…

Review The Psychology of Selling: Teknik Jualan Kuno yang Masih Ampuh di Era Digital

Setiap kali saya membaca buku tentang selling, ada satu pertanyaan yang mengusik:…

Buku Bisnis Wajib Baca Untuk Reseller Dan Umkm Yang Ingin Scale Up

Seorang reseller yang omzetnya sudah nyaman di angka 20-30 juta per bulan…

7 Buku Keuangan Terbaik Untuk Pemula Yang Belum Paham Saham

Masuk ke dunia keuangan itu seperti belajar bahasa baru. Semua orang terlihat…